Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 20 Feb 2020 12:09 WIB

TRAVEL NEWS

Galungan Identik dengan Pemasangan Penjor, Apa Maknanya?

Putu Intan Raka Cinti
detikTravel
Penjor di Bali menyambut Hari Raya Galungan (Angga Riza/detikcom)
Foto: Penjor di Bali menyambut Hari Raya Galungan (Angga Riza/detikcom)
Jakarta -

Jika traveler main ke Bali saat Galungan, traveler akan menemukan batang bambu tinggi yang ujungnya melengkung, berhiaskan janur dan pernak-pernik lainnya yang terpasang di depan rumah atau gedung. Nah, benda itu disebut penjor.

Penjor yang traveler lihat itu tidak dipasang sebagai hiasan belaka. Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, pemasangan penjor punya makna mendalam.

"Pemasangan penjor saat Galungan sebagai simbol persembahan kepada para dewa yang berstana (bersemayam) di Gunung Agung dan sebagai simbol kemakmuran serta kemenangan," ujarnya saat dihubungi detikcom via pesan singkat, Kamis (20/2/2020).

Tak hanya berhiaskan janur yang berwarna kuning, penjor juga dilengkapi dengan berbagai hasil bumi dan persembahan.

"Penjor Galungan isinya lengkap ada buah-buahan, umbi-umbian, daun, biji-bijian, dan lain-lain. Di bawah penjor dipasang sanggah penjor untuk tempat persembahan," ujarnya.

Pemasangan penjor pun tak boleh dilakukan sembarangan. Sudiana mengatakan, penjor dipasang di sebelah kanan pintu keluar pekarangan rumah. Selain itu penjor wajib dipasang oleh umat Hindu.

"Setiap umat Hindu yang memiliki rumah waktu Galungan diwajibkan buat penjor," katanya.

Nah, lantas sampai kapan sih penjor ini akan dipasang?

"Penjor akan dicabut pada saat Budha Kliwen Paang, 25 hari dari hari Galungan. Setelah dicabut, semua bekas daun dan lain-lain yang mengering dibakar dan abunya ditanam di tengah pekarangan sebagai simbol menanam kesuburan dan kesejahtraan," ujarnya.

Sementara itu, pemasangan penjor saat Galungan juga dapat dimaknai sebagai pengingat manusia untuk tetap rendah hati dalam menjalani kehidupan. Hal itu disampaikan Sekretaris Suka Duka Hindu Dharma Banjar Jakarta Timur, Made Sumadi Artha, ketika ditemui detikcom, Rabu (19/2/2020).

"Galungan identik sama penjor, pasang penjor itu pertama untuk selebrasi (Galungan), ada edukasionalnya, simbol-simbol penjor itu bahwa kita harus berdiri tinggi tapi ketika kita tinggi, kita harus menunduk. Jangan sombong, harus tetap menjaga perilaku, harus sopan. Itulah makna dari akhlak yang baik,"ujarnya.



Simak Video "Pernah Kebanjiran, Pura Rawamangun Adakan Upacara Pembersihan"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/pin)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA