Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 05 Mei 2020 14:23 WIB

TRAVEL NEWS

Kemesraan Didi Kempot dan Suriname

Putu Intan
detikTravel
Didi Kempot di Banyuwangi
Didi Kempot saat tengah manggung (Foto: Ardian Fanani)
Jakarta -

Didi Kempot baru saja berpulang pagi ini, Selasa (5/5/2020) di Rumah Sakit Kasih Ibu Solo. Penyanyi yang belakangan begitu dekat dengan generasi milenial itu memiliki hubungan mesra dengan negara Suriname.

Tak hanya di Indonesia, Didi Kempot juga amat dipuja di Suriname. Kepiawaiannya membawakan lagu campur sari, telah membawanya meraih sejumlah penghargaan di negara yang terkenal menjadi rumah bagi komunitas orang-orang Jawa tersebut.

Pada 2013, Didi Kempot dinobatkan sebagai penyanyi terpopuler di Suriname. Gelar yang disematkan Menteri Dalam Negeri Suriname, Soewarto Moedtadja itu bukannya tanpa alasan. Didi memang langganan memboyong penghargaan musik di negara yang terletak di Amerika bagian selatan itu.

Album musik Didi Kempot pertama kali masuk ke Suriname pada 1980. Kala itu, albumnya langsung mendapatkan penghargaan sebagai album terbaik.

Musisi yang dikenal sebagai The Godfather of Broken Heart tersebut juga diketahui tak hanya membawakan lagu berbahasa Jawa atau Indonesia saja ketika manggung di Suriname. Ia juga bernyanyi dalam bahasa nasional Suriname.

Didi Kempot tercatat telah sembilan kali manggung di Stadion Anthony Nesty, Suriname. Konser terakhirnya diadakan pada 29 September 2018. Momen konser terakhir itu menjadi makin spesial dengan kehadiran Presiden Suriname Desi Bouterse dan Ibu Negara Ingrid Waldring Bouterse.

Kedekatannya dengan masyarakat Suriname juga diungkapkan lewat lagu bernuansa Suriname yakni Kenyo Suriname dan Layang Kangen. Lagu itu begitu melekat di hati masyarakat keturunan Jawa yang jumlahnya mencapai 15 persen dari total penduduk Suriname yang pada 2017 berjumlah 563 ribu jiwa.

Jika menilik sejarah, menurut Hein Vruggink (2017), sekitar 70 persen orang Jawa di Suriname itu berasal dari Jawa Tengah, 20 persen Jawa Timur, dan 10 persen Jawa Barat. Bila dilihat dari persentasenya, tak heran bila lagu Didi Kempot mudah diterima masyarakat di sana. Seperti diketahui musisi bernama asli Dionisius Prasetyo itu lahir dan memulai kariernya di Solo, Jawa Tengah.

***

Lantas, bagaimana komunitas Jawa yang besar bisa tinggal di Suriname?

Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, tepatnya sejak tahun 1880-an, orang-orang Jawa dibawa ke Guyana Belanda untuk dipekerjakan di perkebunan gula atau perkayuan. Kemudian, mulai 1890 hingga 1939, sebanyak 33 ribu orang Jawa di Belanda dikirimkan ke Suriname untuk menjadi kuli perkebunan.

Suriname sendiri merupakan negara kecil seluas 163.265 kilometer persegi yang terletak di antara Samudera Atlantik, Sungai Amazon, Rio Negro, Cassiquiare dan Orinocco. Negara ini baru merdeka pada 25 November 1975 setelah sebelumnya sempat dikuasai Spanyol, Inggris, Prancis, Portugal, sampai Belanda.

Orang-orang Jawa di sana tinggal di beberapa wilayah seperti Coronie, Nickeria, Saramacca, Moengo, Paranam, dan Biliton. Mereka mulai berkeluarga dan menghasilkan keturunan sehingga komunitas Jawa makin besar. Sampai saat ini, mereka masih menggunakan bahasa Jawa. Bahkan nama-nama mereka pun masih bernuansa Jawa dengan kombinasi nama Belanda dan Inggris.

Selain mengenai bahasa Jawa yang masih terjaga, budaya Jawa lainnya juga masih dipertahankan di sana. Contohnya kuliner seperti pecel dan soto yang eksis di Suriname. Tak sampai di situ, ada juga hari khusus orang Jawa di Suriname yang disebut sebagai The Day of Wong Jawa yang diperingati setiap 9 Agustus.



Simak Video "Kangen Didi Kempot, Anak Sulungnya Pakai Baju Mendiang "
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA