Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 15 Mei 2020 20:46 WIB

TRAVEL NEWS

Saatnya Promosikan Borobudur dengan Storytelling di Media Sosial

Femi Diah
detikTravel
Candi Borobudur
Candi Borobudur (dok. Kemenparekraf)
Jakarta -

Candi Borobudur sebagai salah satu situs warisan dunia berbasis budaya di Indonesia tak bisa dipromosikan dengan cara biasa-biasa saja saat ini. Sudah saatnya Borobudur memanfaatkan media sosial.

Usulan itu diwacanakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan disampaikan melalui webinar Membangun Nilai-Nilai Produk Wisata Warisan Budaya Dunia Melalui Storytelling Di Media Sosial pada Kamis (14/5/2020). Kemenparekraf menggandeng dua sosok sebagai narasumber dalam agenda itu, pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI) Asep Kambali dan content writer Astrid Savitri.

Asep optimistis penggunaan media sosial bisa membuat Borobudur makin dikenal. Tapi, ada syaratnya.

"Balai Konservasi Borobudur harus mengetahui target pasar yang dibidik, milenial atau generasi Z. Itu agar tepat memilih media sosial untuk berpromosi apakah lewat WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, atau media sosial yang lain, bahkan televisi," kata Asep.

"Indonesia ini ibu kota media sosial dan Jakarta ibu kotanya Twitter. televisi juga masih merupakan salah satu tenaga untuk menyebarluaskan informasi ke pelosok Indonesia," dia menambahkan.

Selain itu, agen dan pemandu wisata harus memiliki informasi akurat tentang Candi Borobudur. Nah, untuk mendapatkan informasi itu, pengelola diminta untuk berhati-hati memilih sumber informasi.

"Jangan asal comot dari internet. Balai Konservasi Borobudur memiliki buku tentang Borobudur dan itu bisa digunakan sebagai acuan," Asep menjelaskan.

Asep juga meminta agar informasi tentang Candi Borobudur atau situs warisan budaya Indonesia lainnya mengedepankan data ilmiah. Bukan melulu tentang mistik yang menempel pada situs sejarah itu.

Sementara itu, Astrid menyebut agar menarik bagi turis informasi itu disampaikan dengan storytelling yang disesuaikan dengan kekhasan platform media sosial yang dipilih.

"Instagram bisa lebih leluasa karena bisa dengan foto atau video serta teks meskipun tidak terlalu panjang. Sementara YouTube hanya dengan visual yang bergerak," kata Astrid.

Selain Candi Borobudur, wacana untuk mempromosikan empat situs budaya Indonesia lain Kompleks Candi Prambanan, Situs Manusia Purba Sangiran, Sistem Subak Bali sebagai Manifestasi Filosofi Tri Hita Karana, dan yang terakhir Tambang Kuno Batubara Ombilin Sawahlunto melalui media sosial.



Simak Video "Mulai Hari Ini, Pengunjung Borobudur Cuma Bisa Naik sampai Lantai 8"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA