Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 20 Mei 2020 03:19 WIB

TRAVEL NEWS

Ramadhan di Tanah Para Sultan

Nur Karimah Almazidah
detikTravel
Ramadhan di Turki
Foto: Nur Karimah Almazidah
Istanbul -

Akhir-akhir ini, Turki menjadi negara favorit pelancong dari seluruh dunia. Bagaimana suasana bulan Ramadhan pada pandemi virus Corona?

Turki, sebuah negara dengan 98% penduduknya beragama Islam, ini memiliki sejarah kejayaan Islam yang luar biasa. Tidak hanya itu, di Turki kita akan merasakan suasana seperti di Eropa namun dengan kemudahan mencari makanan halal serta kemudahan beribadah.

Suasana bulan Ramadhan di Turki pun spesial layaknya di Indonesia. Menjadi kian spesial karena saya berstatus sebagai anak rantau.

Rupanya, kendati terbiasa berpuasa di bulan Ramadhan, tetap tidak mudah berpuasa di negara orang. Saya mendapati ada tantangan tersendiri.

Kenapa? Karena, beberapa tahun belakangan Ramadhan jatuh di musim panas dengan suhu 34-37 derajat celcius. Selama Ramadhan di Turki pun kita berpuasa dalam durasi yang lebih panjang, yaitu sekitar 17 jam. Uniknya lagi, walaupun mayoritas penduduknya Muslim jumlah penduduk yang berpuasa sedikit.

Meskipun demikian, banyak hal yang membuat takjub selama menjalani Ramadhan di Turki. Setiap bulan Ramadhan di Turki selalu ada tradisi berbuka puasa bersama di depan Blue Mosque (Masjid Sultan Ahmed). Taman yang diapit oleh Blue Mosque dan Hagia Sophia itu disulap menjadi tempat untuk berbuka puasa bagi 30.000 orang lebih. Jadi, siapa saja bisa datang dan berbuka puasa secara cuma-cuma di sana.

Hal lain yang membuat takjub adalah sifat kedermawanannya orang Turki yang memuliakan tamu atau dikenal dengan sifat 'misafirperver'. Di Bulan Ramadhan biasanya mereka akan mengundang para pelajar asing termasuk kami untuk berbuka puasa di rumah mereka atau di restoran. Pelajar asing yang diundang juga tidak main-main jumlahnya bisa mencapai 50 orang.

Jika di Indonesia menu berbuka dan sahur tidak akan lengkap tanpa nasi, maka menu orang Turki sungguh berbeda. Selain ada karbohidrat, lauk dan menu sayurannya, menu berbuka puasa yang tidak pernah terlupa adalah ramazan pidesi dan corba.

Ramadhan di TurkiRamadhan di Turki Foto: Nur Karimah Almazidah

Ramazan pidesi adalah roti tanpa isi berbentuk melingkar dengan ukuran sebesar wajan dengan permukaan atasnya bertabur wijen dan jintan hitam. Adapun corba adalah jenis sup khas Turki dengan berbagai macam isian atau campuran bergantung pada jenis corbanya.

Kedua makanan ini harus dimakan secara bersamaan dan menjadi hidangan pembuka berbuka puasa. Karena, ramazan pidesi ini menjadi roti utama saat berbuka puasa, maka akan ramai kita jumpai para penjual ramazan pidesi di jalanan.

Berbeda dengan menu berbuka puasa yang berat, menu sahur orang Turki sangatlah ringan. Ada beberapa makanan yang tidak pernah terlewat, yaitu pogaca (red:poaaca), simit dan borek serta dilengkapi dengan tomat,timun dan buah zaitun. Pogaca adalah roti yang berukuran sekepalan tangan dengan isian bervariasi seperti daging cincang, kentang, keju atau zaitun dengan permukaan atas bertabur wijen dan jintan hitam.

Simit adalah roti berukuran bulat dengan lubang di tengahnya dengan tekstur agak padat dan seluruh permukaannya dipenuhi dengan wijen. Adapun borek adalah sejenis gorengan yang memiliki isian sama dengan pogaca dengan bentuk yang beraneka ragam dan beberapa jenis borek memiliki rasa yang mirip dengan martabak asin.

Di Bulan Ramadhan, beberapa kampus di Turki mengalihkan dana makan siang kampusnya untuk memberi makan orang berbuka puasa. Hal itu terjadi di Kampus Sakarya di Kota Sakarya, Turki. Setiap waktu berbuka puasa selama weekdays, Masjid Kampus Sakarya menyediakan makanan berbuka puasa sebanyak 3000 porsi. Jadi, kami tidak akan khawatir kekurangan makanan selama Ramadhan.

Hal lain yang menarik perhatian di Kota Sakarya selama Bulan Ramadhan adalah kegiatan yang dilakukan di Masjid Kampus Sakarya. Setiap malam selama Bulan Ramadhan Masjid Kampus Sakarya akan dipenuhi oleh anak-anak kecil yang mengikuti orang tuanya melaksanakan sholat. Namun demi menjaga kekhusyu'an dalam beribadah, pihak masjid mengirimkan tokoh Nesrettin Hoca (red: Nasreddin Hodja) untuk menghibur anak-anak dengan melakukan permainan tanpa suara.

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA