Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 25 Mei 2020 13:58 WIB

TRAVEL NEWS

Cerita Ramadhan WNI di Skotlandia, Puasa 18 Jam Sampai Lockdown

Ridha Khairina
detikTravel
Kota di Skotlandia.
Kota Stirling di Skotlandia (Ridha Khairina/istimewa)
Stirling -

Rahmat bulan Ramadhan dan Idul Fitri dirasakan di seluruh dunia. Termasuk juga seorang pelajar WNI yang tengah menempuh study di Stirling, Skotlandia.

Bagi yang pernah menonton film Braveheart, tentu tak asing dengan nama Stirling. Inilah kota kecil nan indah di Skotlandia yang menjadi lokasi perang kemerdekaan rakyat Skotlandia yang dipimpin oleh William Wallace melawan tentara Inggris pada tahun 1297, sekaligus inspirasi cerita dari film Braveheart.

Stirling terletak di jantung Skotlandia, tepatnya 42 km di timur laut Glasgow dan 60 km di barat laut Edinburgh. Kota yang dijuluki The Heart of Scotland ini dikelilingi oleh perbukitan hijau, sungai Forth, dan padang rumput yang menjadi surganya para domba, sapi, dan Highland Cow (sapi khas dataran tinggi Skotlandia yang bertanduk dan berbulu lebat).

Selain alam yang indah, pengalaman merayakan bulan Ramadhan hingga berpuasa di Skotlandia pun sangat berbeda dengan di Indonesia. Misalnya saja soal durasi lama puasa yang jauh lebih lama daripada di Indonesia.

Puasa 18 - 20 Jam

Di bulan Ramadhan tahun ini, Stirling mengalami waktu siang yang lebih panjang daripada malamnya. Matahari terbit antara pukul 02.00 hingga 04.00 pagi, dan tenggelam antara pukul 21.00 hingga 22.00 malam. Sehingga umat muslim menjalani waktu puasa yang bervariasi antara 18-20 jam dari Subuh hingga Maghrib menjelang.

Meski jumlahnya tidak sebanyak kota besar lain di Inggris, komunitas muslim di Stirling cukup aktif dalam kegiatan keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Satu-satunya masjid yang ada, yakni Central Scotland Islamic Centre yang terletak di kawasan Burghmuir Road, menjadi pusat aktivitas muslim Stirling.

Kota di Skotlandia.Central Scotland Islamic Centre (Ridha Khairina/istimewa)

Mayoritas komunitas muslim Stirling adalah warga imigran dari Pakistan dan Timur Tengah yang telah turun temurun tinggal di kota yang pernah menjadi ibukota Skotlandia ini.

Sebagian dari mereka membuka usaha restoran maupun toko makanan halal. Kehadiran pelajar muslim dari berbagai belahan dunia yang menuntut ilmu di University of Stirling juga memberi warna tersendiri.

Ramadhan saat Lockdown

Sejak pemerintah Inggris memberlakukan lockdown pada pertengahan Maret lalu_sehingga aktivitas perkuliahan dilakukan secara online_banyak pelajar yang kemudian memilih pulang ke negaranya masing-masing. Kota dan khususnya kampus University of Stirling menjadi jauh lebih sepi dari biasanya.

Meskipun demikian, pemerintah Skotlandia tetap mengoperasikan transportasi publik seperti bus dan kereta api untuk memfasilitasi mereka yang terpaksa harus bekerja di luar rumah. Selain itu pemerintah juga mengizinkan warga untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, serta melakukan olahraga seperti berjalan kaki, lari, ataupun bersepeda.

Takjil gratis yang disediakanTakjil gratis yang disediakan bagi semua orang (Ridha Khairina/istimewa)

Untungnya warga Stirling sangat patuh dengan anjuran physical distancing. Sehingga kalau kita berpapasan dengan orang lain di jalan, masing-masing langsung menjaga jarak sejauh 2 meter satu sama lain. Begitu juga saat mengantre ataupun berbelanja di supermarket.

Suasana sepi karena anjuran pemerintah untuk stay at home semakin terasa di bulan Ramadhan. Warga muslim di Stirling tidak bisa melaksanakan ibadah sholat berjamaah di masjid, untuk menghindari risiko penyebaran virus Corona.

Namun semangat berbagi di bulan yang mulia ini tidak lantas berhenti begitu saja. Melalui organisasi kemanusiaan Stirling Aid, komunitas muslim bekerja sama dengan The Salvation Army, yaitu organisasi amal gereja internasional yang berbasis di London, membuka posko setiap hari di Central Scotland Islamic Centre guna mengumpulkan donasi berupa makanan dan toiletries untuk warga tidak mampu yang membutuhkan, serta alat pelindung diri bagi tenaga medis.

The Salvation Army kemudian seminggu sekali mendistribusikan bantuan yang terkumpul tersebut ke sekitar 30 Care Home serta rumah sakit yang ada di area Stirling dan sekitarnya.

Menurut Zahir Haidar, salah seorang pengurus Stirling Aid, kegiatan sosial ini rutin dilakukan sebagai wujud solidaritas warga Muslim terhadap sesama, tanpa memandang apapun agama mereka.

Pria berdarah Pakistan ini menambahkan, bahwa umat muslim khususnya mereka yang menjadi minoritas di suatu negara, memiliki dua tanggung jawab, yaitu berbuat baik sebagai contoh bagi keluarganya, dan juga untuk merepresentasikan Islam yang damai di tengah masyarakat yang lebih luas.

"Menjadi seorang muslim tidak cukup hanya dengan mengucapkan syahadat, jika kita tidak berzakat, bershodaqoh, dan berbuat baik kepada sesama," pesan Zahir.

Yang tak kalah keren, ada pula keluarga asal Pakistan yang memiliki restoran halal, menyediakan makanan berbuka puasa gratis bagi para pelajar maupun warga muslim yang membutuhkan.

Menjalankan ibadah Ramadhan di sebuah kota kecil yang jauh dari tanah air, di mana warga muslim adalah minoritas, ternyata tetap mampu menghadirkan makna Ramadhan meski di tengah masa sulit seperti saat ini.

Penuh objek wisata

Kota Stirling sendiri dipenuhi oleh bangunan-bangunan indah terbuat dari batu sejak zaman medieval hingga abad 19. Beberapa landmark di kota Stirling yang wajib untuk dikunjungi di antaranya Stirling Castle, Old Town Cemetery, The Wallace Monument dan tempat saya berkuliah saat ini, kampus University of Stirling yang di dalamnya terdapat Danau Loch Airthrey dengan latar belakang Dumyat Hill yang mempesona.

Tulisan ini dibuat oleh Ridha Khairina, Mahasiswa MLitt Publishing Studies 2019/2020, University of Stirling. Tergabung dalam PPI Stirling (Instagram: @ppistirling) dan PPI Greater Glasgow.



Simak Video "'Darah Rakyat Palestina' Sambut Timnas Israel di Skotlandia "
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA