Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 31 Jul 2020 17:29 WIB

TRAVEL NEWS

Tradisi Idul Adha, Demak Mandikan Pusaka Sunan Kalijaga

Mochamad Saifudin
detikTravel
Tradisi Penjamasan Sunan Kalijaga di Demak
Penjamasan peninggalan Sunan Kalijaga (Mochamad Saifudin/detikcom)
Demak -

Tradisi penjamasan atau mencuci pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dengan minyak jamas rutin dilaksanakan di Demak, Jawa Tengah setiap Hari Raya Idul Adha oleh ahli waris.

Tradisi kali ini pada 10 Dzulhijjah 1441 meniadakan dan membatasi beberapa kegiatan, khususnya salaman, demi mencegah penularan virus Corona.

"Selaku ahli waris, melakukan penjamasan pusaka peninggalan Eyang Sunan Kalijaga merupakan suatu kewajiban. Namun pelaksanaan kali ini kita batasi sesuai anjuran pemerintah dengan adanya wabah COVID-19 ini," jelas pelaksana tugas penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, Raden Krisnaedi usai prosesi di Pendopo Pangeran Wijil V, Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak, Jumat (31/7/2020).

Senada dikatakan ketua panitia penjamasan, Raden Edi Mursalin sebelumnya, pihaknya membatasi tim penjamasan. "Tim jamasnya 7 orang, dibantu dengan tim minyak jamas. Tidak sampai 30 orang yang di dalam (Makam Sunan Kalijaga). Pengiring tim penjamasan di luar," ucap Edi.

Tradisi Penjamasan Sunan Kalijaga di DemakTradisi Penjamasan Sunan Kalijaga di Demak Foto: (Mochamad Saifudin/detikcom)

Prosesi dimulai dari tim penjamasan pusaka dan iring-iringan yang membawa minyak jamas beserta ubo rampe, dari Pendopo Pangeran Wijil V menuju Makam Sunan Kalijaga. Usainya di makam, tim dan iring-iringan berdoa sebelum membuka pintu makam Sunan Kalijaga. Kemudian nampak hanya beberapa orang yang masuk dalam makam, yakni yang dipanggil oleh pranatacara.

Penjamasan dua pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, lanjut Krisnaedi, yakni Pusaka Kyai Carubuk dan Pusaka Kotang Ontokusumo, merupakan sebuah wasiat dari Sunan Kalijaga kepada ahli waris untuk senantiasa merawat sepeninggalannya.

"Nek duwur ulon-ulonku, setelah aku raono, jamasono utowo rawatono (di atas ulon-ulonku, setelah saya meninggal, mandikanlah atau rawatlah)," ucap Krisnaedi menirukan dawuh Sunan Kalijaga.

Prosesi penjamasan di tengah wabah COVID-19 tersebut berlangsung lancar, meski tak seramai tahun sebelumnya. Lantaran ditiadakannya acara salaman antara panembahan dengan masyarakat umum. Yakni, seusai prosesi penjamasan, yang bertujuan mencari berkah Sunan Kalijaga.

Krisnaedi menjelaskan, masyarakat percaya bahwa tangan ahli waris selaku panembahan yang menyucikan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, akan mengantarkan keberkahan bagi masyarakat.

Tradisi Penjamasan Sunan Kalijaga di DemakTradisi Penjamasan Sunan Kalijaga di Demak Foto: (Mochamad Saifudin/detikcom)

"Dengan adanya tangan penembahan bisa mengelap (pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dengan minyak jamas), di situlah barangkali berkah tuah dari penjamasan itu, yang akhirnya bisa dibuat salaman-salaman, karena kepercayaan masyarakat untuk bisa bersalaman dengan panembahan," terangnya.

Dirinya bersyukur, lantaran prosesi penjamasan bisa berjalan dengan lancar. Ia menjelaskan, tim melakukan prosesi penjamasan di dalam Makam Sunan Kalijaga dengan mata tertutup.

"Prosesi penjamasan, alhamdulillah bisa lancar. Memasukkan Pusaka Kyai Carubuk juga bisa pas. Saya juga sampai terharu. Karena biasanya kadang bisa pas dan bisa sulit," tuturnya.

"Pertama, kita pejamkan mata dulu. Kita ambil dulu pusakanya, Keris Kyai Carubuk, kita ambil. Setelahnya, ada yang ikut membantu, sebelah saya, Pak Prayit selaku juru kunci, memegang keris. Setelah itu saya membersihkan dari Agemannya Eyang Kotang Ontokusumo," terang Krisnaedi menjelaskan proses penjamasan dalam makam.

Tradisi Penjamasan Sunan Kalijaga di DemakTradisi Penjamasan Sunan Kalijaga di Demak Foto: (Mochamad Saifudin/detikcom)

"Yang didahulukan, yang diambil dari peti itu Keris Kyai Carubuk, ambil dulu, keluarkan. Baru saya membersihkan Agemannya Eyang Kotang Ontokusumo. Setelah itu sudah bersih, baru kita bersihkan Keris Kyai Carubuk. Setelah itu kita masukkan," sambung Krisnaedi.

Sementara terkait minyak jamas, Krisnaedi menjelaskan, bahan tersebut dari berbagai bunga dan campuran. Diantaranya bunga kenanga, bunga kantil, cendana dan minyak kelapa yang mengambilnya harus Selasa Kliwon, kelapanya yang tua," ungkapnya.



Simak Video "Terungkap! PDP Corona yang Tewas dari Lantai 3 RSUD Demak Bukan Bunuh Diri"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA