Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 28 Sep 2020 16:23 WIB

TRAVEL NEWS

Surat Nikah Sukarno-Inggit Sempat Ditawar Kolektor Belanda Rp 100 M

Yudha Maulana
detikTravel
Foto Prof Nina Lubis dan ahli waris Inggit Garnasih di Gedung Sate
Ahli waris memperlihatkan surat pernyataan penyerahan surat nikah-cerai Bung Karno dan Inggit GarnasihFoto: Yudha Maulana/detikcom
Bandung -

Ahli waris menyerahkan surat nikah-cerai Sukarno dan Inggit Garnasih pada negara karena khawatir dokumen itu lari ke tangan asing.

Ahli waris Inggit Garnasih sepakat untuk menyerahkan dokumen pernikahan dan perceraian Sukarno - Inggit Garnasih kepada negara melalui Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Untuk menyampaikan kesepakatan itu, perwakilan ahli waris didampingi Sejarawan Universitas Padjajaran (Unpad) Nina Lubis menemui Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Gedung Sate pada Senin (28/9/2020).

Nina mengatakan, dokumen pernikahan dan perceraian tersebut merupakan bukti otentik dari perjalanan hidup sang proklamator NKRI. Oleh karena itu, sangat disayangkan bila dokumen sepenting itu sampai jatuh ke luar negeri.

"Saya sebagai sejarawan terus terang sedih sekali, kalau sampai akhirnya dokumen sepenting ini lari ke luar negeri. Karena kemarin isunya, sudah ditawar Rp 25 miliar, bahkan ada kolektor dari Belanda sempat ditawar Rp 100 miliar," ujar Nina di Gedung Sate.

Seperti diketahui, kabar dijualnya dokumen berupa surat nikah-cerai Sukarno dan Inggit Garnasih muncul setelah tayangan yang berisi iklan yang mempromosikan dokumen bertanda tangan Ki Hadjar Dewantara, Moh Hatta dan KH Mas Mansyur itu muncul di sebuah akun penjual barang lawas.

Foto Prof Nina Lubis dan ahli waris Inggit Garnasih di Gedung SateProf Nina Lubis dan ahli waris Inggit Garnasih di Gedung Sate. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)

Dalam tayangan itu tampak Tito Asmara Hadi, seorang pria yang disebut dalam unggahan tersebut menyimpan dan hendak melepas dokumen-dokumen pribadi tersebut. Walau tak lama setelah diunggah, tayangan itu kembali dihapus.

"Kita akan kehilangan salah satu bukti sejarah kuat kalau sampai itu terjadi, kemarin saya mengontak keluarga yang di luar Pak Tito, beliau-beliau ini kemarin hari Minggu rapat dan memang keinginan dari keluarga ini apa?" ucap Nina.

"Keluarga menyebut 'kami malu kalau harus menjualbelikan dokumen seperti itu, dan Pak Tito bertindak tanpa sepengetahuan ahli waris yang lain. Oleh karena itu, saya sarankan sesuai peraturan yang berlaku lebih baik kita simpan dan serahkan ini kepada negara, karena negara bisa bertindak kalau ada penyerahan dari keluarga," ucapnya.

Draft penyerahan dokumen pun telah dibuat, di dalamnya tercantum 12 nama anak-anak dari dua anak angkat Inggit, yaitu Ratna Djuami dan Kartika. "Kami berharap Pak Tito dengan sukarela mendengar imbauan ini, dan orang akan memuji beliau andaikata Pak Tito mau menyerahkan dokumen ini demi negara, demi kepentingan sejarah," tuturnya.

(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA