Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 06 Okt 2020 12:19 WIB

TRAVEL NEWS

Berkaca dari Selandia Baru, 2 Kali Sukses Taklukkan Puncak COVID-19

AUCKLAND, NEW ZEALAND - MARCH 26: Queen Street on day one of the lockdown on March 26, 2020 in Auckland, New Zealand. New Zealand has gone into lockdown as the government imposes tough restrictions to stop the spread of COVID-19 across the country. Prime Minister Jacinda Ardern on Wednesday declared a State of National Emergency which came into effect at midnight along with lockdown measures. An Epidemic Notice has also been issued to help ensure the continuity of essential Government business. Under the COVID-19 Alert Level Four measures, all non-essential businesses are closed, including bars, restaurants, cinemas and playgrounds. Schools are closed and all indoor and outdoor events are banned. Essential services will remain open, including supermarkets and pharmacies. Lockdown measures are expected to remain in place for around four weeks, with Prime Minister Jacinda Ardern warning there will be zero tolerance for people ignoring the restrictions, with police able to enforce them if required. New Zealand currently has 205 confirmed cases of COVID-19. (Photo by Bradley White/Getty Images)
Ilustrasi Selandia Baru (Getty Images/Bradley White)
Auckland -

Per hari Rabu malam besok (7/10), Selandia Baru resmi mencabut pembatasan terkait COVID-19. Keberhasilan negara yang luasnya 2 kali Pulau Jawa ini bisa jadi pelajaran.

Hal itu diungkapkan oleh sang Perdana Menteri, Jacinda Ardern seperti dilihat detikTravel dari NZ Herald, Selasa (6/10/2020).

"Tingkat kewaspadaan Auckland berubah per 11.59 malam waktu setempat, Rabu, 7 Oktober. Auckland akan bergabung dengan daerah lainnya di Selandia Baru ke level 1," bunyi pernyataannya.

Dengan pernyataan tersebut, Auckland yang merupakan cluster terakhir di Selandia Baru resmi bergabung dengan kota lainnya di Negeri Kiwi di level 1. Pada level tersebut, segala kegiatan berkumpul kembali diperbolehkan tanpa perlu social distancing atau memakai masker di moda transportasi publik.

Peran sang Perdana Menteri serta masyarakatnya

Keberhasilan Selandia Baru menahan laju COVID-19 yang sangat signifikan tak lepas dari peran vital Jacinda Ardern selaku pemimpin Negeri Kiwi. Namun, komando Ardern saja tentu tak akan berhasil jika tak dibarengi peran serta masyarakatnya.

"Ini adalah pengujian dari rencana kami. Masyarakat Selandia Baru merespons dengan baik," ujarnya.

WHAKATANE, NEW ZEALAND - DECEMBER 10: New Zealand Prime Minister Jacinda Ardern meets with first responders at the Whakatane Fire Station on December 10, 2019 in Whakatane, New Zealand. Five people are confirmed dead and several people are missing following a volcanic eruption at White Island on Monday. (Photo by Dom Thomas/Radio NZ - Pool/Getty Images)Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern (kanan) saat mengunjungi masyarakatnya (Photo by Dom Thomas/Radio NZ - Pool/Getty Images)

Untuk mengatasi COVID-19, Jacinda memang memberlakukan lockdown selama beberapa waktu yang berhasil diikuti masyarakatnya dengan baik. Dua kali Selandia Baru melakukan lockdown, dua kali juga Selandia Baru yang memiliki populasi 5 juta orang ini berhasil menaklukkan COVID-19.

"Tim kami yang terdiri dari 5 juta orang, sedikit banyak kelelahan kali ini. Kami melakukan apa yang tim nasional kami lakukan: Kami mendinginkan kepala kami dan menjalankan apa yang harus dilakukan," ujar Jacinda yang sempat mengaku sedikit berdansa saking lega saat negaranya berhasil mengalahkan COVID pertama kali pada bulan Juni lalu.

"Rencana kami sederhana, menghentikan wabah dengan diam di rumah dan mengurangi kontak. Semua usaha non esensial harus tutup, semua bar, restoran, kafe, sinema, kolam renang, tempat bermain," ujar Jacinda.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun sering memuji langkah-langkah yang dilakukan Selandia Baru. "Selandia Baru bereaksi dengan cepat dan mengikuti pedoman WHO dalam menjaga jarak fisik, komunikasi, pengetesan, isolasi dan merawat pasien, serta contact tracing," tulis WHO.

Selanjutnya: Kebijakan Selandia Baru Sering Disebut Berlebihan

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA