Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 15 Okt 2020 14:30 WIB

TRAVEL NEWS

5 Fakta soal Songket yang Bikin Kain Ini Semakin Dicintai

Abu Ubaidillah
detikTravel
Kemenparekraf
Kain Songket/Foto: shutterstock
Jakarta -

Ketika berkunjung ke suatu daerah wisata, kamu tidak hanya akan dimanjakan dengan pemandangan alam estetik atau objek wisata menarik, melainkan juga beragam warisan budaya yang terdapat di daerah wisata tujuan, tentunya hanya #DiIndonesiaAja.

Salah satunya adalah kain tradisional. Masyarakat Indonesia tentu tahu bahwa bangsa ini memiliki wasta atau kain Nusantara yang beragam dari Sabang sampai Merauke. Setiap kain tradisional memiliki ciri khas, keindahan, hingga asal usul yang membuat siapa saja berdecak kagum. Salah satunya kain songket.

Kain songket merupakan warisan budaya yang harus dijaga masyarakat Indonesia, semua sudah tahu akan hal itu. Namun mungkin banyak yang belum mengetahui lebih lanjut soal kain ini secara lebih dalam.

Misalnya mengenai asal kata, sudah tahukah kamu jika songket berasal dari bahasa Melayu, yakni sungkit yang berarti ada benang tertentu yang diangkat untuk dimasukkan benang tambahan? Inilah yang membuat kain setelah ditenun akan memiliki corak yang menarik.

Kemudian masih ada fakta lain seputar bahan, lama pengerjaan, motif, harga, dan cara perawatannya. Ingin tahu fakta menarik lainnya seputar kain songket yang akan membuat kamu berdecak kagum? Silakan simak pembahasan berikut.

1. Berawal dari Serat Tanaman

KemenparekrafKain songket Foto: shutterstock

Kain songket telah ditemukan sejak zaman perunggu atau sekitar abad ke-8 hingga abad ke-2 sebelum masehi. Dahulu, benang yang digunakan untuk membuat kain diperkirakan berasal dari serat rami, serat pisang, serat nanas, atau benang katun yang ditanam di wilayah pesisiran.

Mungkin juga banyak yang mengira kain songket hanya berasal dari Sumatera Selatan, khususnya songket Palembang. Padahal, songket juga ada di berbagai wilayah Indonesia, seperti dari Kalimantan, Sulawesi, Bali (dikenal dengan songket Bali), hingga Nusa Tenggara. Ketika kamu mengunjungi lokasi-lokasi tersebut, jangan heran jika menemukan kain songket yang dijajakan penjual.

2. 1 Kain Bisa Selesai 1 Bulan

KemenparekrafKain songket Foto: shutterstock

Nama kain songket sebenarnya merujuk pada sebuah teknik, yakni teknik tenunan yang dibuat dengan memberikan benang pakan (benang yang dimasukkan melintang) tambahan di antara benang pakan dasar. Kemudian benang lungsi (benang yang disusun memanjang dan tidak bergerak) diungkit dengan kayu kecil berdasarkan pola tertentu sehingga bisa menganyam benang pakan tambahan ke benang lungsi.

Rumitnya teknik ini membuat pengerjaan kain songket bisa memakan waktu yang cukup lama. Tak tanggung-tanggung, satu kain songket biasanya membutuhkan minimal waktu satu bulan agar bisa diselesaikan. Itulah yang jadi alasan salah satu kain tradisional yang ada #DiIndonesiaAja ini menjadi sangat istimewa.

3. Punya Banyak Motif

KemenparekrafMotif-motif kain songket Foto: shutterstock

Tidak hanya satu atau dua, songket memiliki banyak motif. Biasanya motif pada kain songket dipengaruhi oleh tradisi dan kepercayaan masing-masing daerah, misalnya songket Melayu di Sumatera Timur kebanyakan bermotif bunga atau hewan, jarang manusia karena ada pengaruh agama Islam di sana.

Kemudian songket di Sumatera Barat, kebanyakan kain songket di sana mengaplikasikan motif binatang namun tak secara nyata. Meski demikian ada pula kain songket bermotif kuda, rusa, merak, atau singa yang digambar dengan detail. Corak tersebut umumnya timbul karena ada pengaruh Belanda.

4. Bernilai Tinggi

KemenparekrafKain songket Palembang (Foto: detikTravel)

Saat kamu mengunjungi salah satu wilayah di Indonesia yang memproduksi kain songket, jangan heran bila pedagang di sana menjual kain songket asli dengan harga yang cukup tinggi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sebab, selain membutuhkan waktu lama, pembuatan kain songket juga memerlukan keahlian yang tak dimiliki semua orang.

Semakin jarangnya minat orang menenun, semakin tinggi pula harga kain songket. Di berbagai daerah, kamu juga bisa menemui banyak perajin yang menyerah dengan kegiatan menenun karena harga jual yang tak sebanding dengan cara mengerjakannya.

5. Butuh Perawatan Ekstra

KemenparekrafKain songket Foto: shutterstock

Ketika kamu memutuskan untuk membeli kain songket, sebaiknya kain tersebut dirawat dengan benar karena tak jarang bahan tersebut adalah warisan leluhur atau memiliki nilai yang sangat mahal.

Caranya adalah dengan menyimpan kain songket menggunakan kertas bebas asam. Songket disimpan dengan cara digulung menggunakan kertas itu. Setelah digunakan, kain songket sebaiknya diangin-anginkan. Bentangkan kain itu setiap bulannya untuk dilihat apakah terdapat noda yang perlu dibersihkan atau tidak.

Itulah sederet fakta menarik tentang kain songket, salah satu kain tradisional yang ada
#DiIndonesiaAja dan banyak dikenal masyarakat Indonesia. Tertarik untuk memilikinya? Kamu bisa membeli sekaligus berwisata ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Nusa Tenggara.



Simak Video "Kemenparekraf Sebut Sulsel Punya Potensi Pariwisata yang Kuat"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA