Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 29 Okt 2020 19:35 WIB

TRAVEL NEWS

Ampyang Maulid di Kudus Digelar Sederhana, Hanya 1 Gunungan Dikirab

Dian Utoro Aji
detikTravel
Ampyang Maulid di Kudus, Kamis (29/10/2020).
Perayaan Ampyang Maulid di Kudus yang dilangsungkan sederhana (Dian Utoro Aji/detikTravel)
Kudus -

Warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kecamatan Jati, Kudus, Jawa Tengah menggelar tradisi Ampyang Maulid dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di tengah pandemi, tradisi Ampyang Maulid digelar secara sederhana. Hanya ada satu gunungan yang dikirab.

Pantauan detikTravel di lapangan, tradisi Ampyang Maulid digelar mulai pukul 15.00 WIB, Kamis (29/10/2020). Acara kirab gunungan dimulai dari Balai Desa Loram Kulon menuju Masjid Wali Loram Kulon.

Ada yang berbeda kirab tahun ini, karena ada satu gunungan yang dikirab. Padahal biasanya yang dikirab ada 10 gunungan. Ini karena kondisi saat ini dengan pandemi virus Corona atau COVID-19.

Gunungan yang dikirab berisi sejumlah makanan. Seperti nasi kepel Ampyang Maulid, sayur, hingga buah - buahan. Makanan tersebut dihias pada gunungan tersebut.

Sesampainya di Masjid Wali Loram Kulon, gunungan tersebut diletakkan di tengah - tengah warga yang hadir pada tradisi tersebut. Warga yang hadir pun menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker dan menjaga jarak.

Ampyang Maulid di Kudus, Kamis (29/10/2020).Ampyang Maulid di Kudus, Kamis (29/10/2020) (Dian Utoro Aji/detikTravel)

Setelah dilakukan doa oleh tokoh masyarakat setempat. Gunungan yang terdapat sejumlah makanan itu dibagikan kepada warga yang hadir di Masjid Wali Loram Kulon.

Kepala Desa Loram Kulon, Muhammad Safii mengatakan tradisi Ampyang Maulid tahun ini digelar secara sederhana karena kondisi pandemi. Biasanya ada belasan gunungan yang dikirab warga, tahun ini hanya ada satu gunungan saja.

"Acara Ampyang tahun 2020 ini mengingat keadaan pandemi, maka acara ini kita sederhanakan dan sesuai prokes yang berlaku. Yang terpenting adalah kita untuk memperingati hari besar kelahiran Nabi Muhammad SAW dan melestarikan budaya di Loram Kulon yang tidak ada hentinya," kata Safii kepada wartawan dan detikTravel selepas acara di Masjid Wali Loram Kulon, Kamis (29/10/2020) sore tadi.

"Tahun kemarin 9 hingga 10 gunungan. Dan tahun ini hanya satu gunungan saja sebagai wujud menghormati, karena hari besar. Momennya di nasi kepel. Kepel 1.000 disederhanakan jadi satu gunungan saja," sambung dia.

Ampyang Maulid di Kudus, Kamis (29/10/2020).Dibagikan secara terbatas bagi peserta (Dian Utoro Aji/detikTravel)

Terpisah Pengurus Masjid Wali Loram Kulon, Afroh Amanuddin mengatakan ada maksud sendiri tradisi tersebut di namakan Ampyang Maulid. Tradisi Ampyang Maulid sudah dilaksanakan secara rutin sejak puluhan tahun lalu.

"Jadi dinamakan ampyang ini baru sekitar 20 tahun lalu. Dulunya namanya ancakan, namun dengan berawal dari diadakan kembali sejak tahun 1996 itu banyak masyarakat menghias tandu - tandu itu dengan kerupuk. Nah kebetulan bagi masyarakat itu dinamakan ampyang. Kemudian tahun 2010 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus tersebut diubah menjadi Ampyang Maulid," kata Afroh saat ditemui di Masjid Wali Loram Kulon.

"Ampyang dijadikan sarana untuk memperingati Maulid Nabi, jadi dipendekkan jadi Ampyang Maulid," kata dia.

Kemudian gunungan yang dikirab kata dia ada sejumlah makanan. Makanan itu dihias. Makanan tersebut terdiri dari nasi kepel, lauk pauk dan dihias aneka macam buah hingga hasil bumi warga setempat.

"Gunungan tandu, diisi nasi lauk pauk dan dihias aneka buah dan juga hasil bumi. Kemudian ada nasi kepel dan kerupuk identik dengan Desa Loram Kulon," ujarnya.

Afroh mengatakan gunungan tersebut terdapat makna sendiri. Seperti nasi kepel itu berisi dibungkus dengan daun jati. Nasi kepel itu terdapat lauk ikan bandeng, telur, serta tahu dan tempe.

Maknanya kata dia, nasi kepel itu menunjukan masyarakat yang punya hajat dan memberikan nasi kepel sejumlah tujuh di masjid. Tujuh itu memiliki filsafat jawa.

"Nasi kepel sebagai tradisi masyarakat yang punya hajat meminta doa di masjid dengan memberikan nasi kepel dengan jumlah tujuh. Tujuh diambil filsafat jawa, yakni pitutur, pinulung maksudnya semoga memberikan sodakoh di masjid semoga mendapatkan pertolongan, bisa mendapatkan petunjuk pitutur yang baik. Sekarang masih dilestarikan," tandas Afroh.



Simak Video "Perhatikan Ini Sebelum Long Weekend ke Tempat Wisata"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA