Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 13 Nov 2020 19:16 WIB

TRAVEL NEWS

Sejarah Friday the 13th yang Dianggap Hari Sial dan Horor

Puti Yasmin
detikTravel
Vienna - Mosaic of Last supper of Jesus by Giacomo Raffaelli from year 1816 as copy of Leonardo da Vinci work on January 15. 2013 in VIenna.
Foto: Getty Images/iStockphoto/sedmak/Sejarah Friday the 13th yang Dianggap Hari Sial dan Horor
Jakarta -

Friday the 13th tepat jatuh pada hari ini, Jumat (13/11/2020). Penanggalan ini pun ramai dibicarakan sebagai hari sial dan horor. Sebenarnya apa sih alasan di balik opini tersebut?

Pada dasarnya ada dua hal yang menyebabkan penanggalan tersebut dicap sebagai hari sial dan horor, yakni tanggal 13 dan hari Jumat. Dikutip dari CNN, angka 13 telah lama ditakuti oleh banyak orang dan dipercaya berasal dari kode Hammurabi. Bahkan, di antaranya orang-orang mengganti penanggalan tanggal 13 dengan notasi '12a'.

Kemudian, hari Jumat juga dianggap sebagai penanggalan yang sial karena beberapa orang Kristen percaya hari Jumat sebagai hari di mana Yesus disalibkan. Maka dari itu, hari Jumat memiliki konotasi yang negatif dibanding dengan hari yang lain.

Lantas, bagaimana dengan Friday the 13th atau Jumat tanggal 13?

Pada dasarnya tidak ada bukti nyata bahwa Friday the 13th merupakan hari sial dan horor. Ada banyak teori dari berabad-abad sebelumnya, namun hal ini telah dibantah.

Ketakutan terhadap Friday the 13th mulai berkembang di abad ke-20. Dalam buku Thomas Lawson "Friday, the Thirteen' misalnya, menceritakan seorang pialang saham yang memilih hari ini untuk dengan sengaja menjatuhkan pasar saham.

Satu tahun kemudian di tahun 1908, The New York Times menjadi media pertama yang percaya pada takhayul Friday the 13th tersebut. Disusul pada tahun 1980-an, ada film yang mengisahkan tentang penanggalan sial ini dalam film 'Friday the 13th movie'.

Sementara itu, 1 dari 4 orang Amerika mengaku percaya takhayul. Bahkan, 3 dari 4 orang Amerika menganggap remeh takhayul tersebut yang sebenarnya ada dalam ilmu psikologis, yakni takhayul tersebut diketahui dapat memengaruhi dan mengendalikan seseorang.

Berdasarkan penelitian di tahun 2010 yang dilakukan psikolog Stuart Vyse. Ia melakukan pengujian kepada orang yang diizinkan membawa jimat keberuntungan pada ujian. Hasilnya orang-orang tersebut memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan yang tidak membawanya.

Jadi menurut detikers bagaimana nih Friday the 13th?

(pay/pal)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA