Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 16 Nov 2020 10:21 WIB

TRAVEL NEWS

GIPI Usulkan Pemerintah Bangun Wisata Domestik secara Sistematis

Putu Intan
detikTravel
Didien Junaedy
Ketua Umum DPP GIPI, Didien Junaedy. Foto: (Johanes Randy/detikcom)
Jakarta -

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengusulkan agar pemerintah dapat berfokus membangun industri pariwisata domestik secara sistematis. Diperlukan kebijakan dan strategi nasional agar pariwisata bangkit di masa pandemi.

Ketua Umum DPP GIPI, Didien Junaedy mengatakan dalam kondisi pandemi Corona yang tak kunjung usai, industri pariwisata Indonesia tak dapat bergantung pada wisatawan asing. Sebaliknya, industri pariwisata domestik memiliki potensi untuk dikembangkan.

"Indonesia memiliki potensi wisata domestik yang sangat bagus dan besar. Mari kita membuat prosedur mengembangkan wisata domestik secara terarah," katanya dalam diskusi yang disiarkan di Youtube Eksplorin Indonesia, Minggu (15/11/2020).

"Pariwisata harus kita dukung dibuat road map. Tahun pertama 2021, tahun kedua 2022 dan tahun ketiga 2023. Tiga tahun pertama kita kembangkan pariwisata domestik," ujarnya.

Senada dengan Didien, pengamat pariwisata Arifin Hutabarat juga mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki pasar wisata domestik yang besar.

Ia mengutip dari Rencana Strategi Kementerian Pariwisata pada 2015 yang menyebut hasil pariwisata domestik jauh melebihi nilai ekuivalen yang didapatkan dari pengeluaran (spending) wisatawan mancanegara.

"Dari segi pasar, di Indonesia 270 juta penduduk. Di ASEAN yang 9 negara itu sekitar 370 juta penduduk. Berarti kalau ASEAN saja dikumpulkan, itu 700 juta. Jadi kalau itu dianggap pasar, kenapa tidak? Domestik pasar kita hebat, potensi destinasi besar," katanya.

Arifin menyinggung potensi destinasi wisata domestik Indonesia yang besar bukan tanpa alasan. Ia menggunakan referensi penetapan Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN) yang dibuat Kementerian Pariwisata di era Menteri Arief Yahya. Saat itu, ada 88 atraksi wisata yang dapat dijadikan spot turis atau destinasi wisata.

"Dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN, paling tinggi (selain Indonesia) adalah Thailand. Thailand tidak lebih dari 30 KSPN. Kita punya 88, tapi baru dibangun 10 (destinasi prioritas). Jadi dari segi destinasi kita punya 88 potensi," ujarnya.

Namun untuk mengoptimalkan potensi itu, Arifin menjelaskan dibutuhkan adanya perencanaan yang tepat dari pemerintah. Ia menyarankan pemerintah melaksanakan pembangunan dalam jangka waktu tertentu yang berbasis pada kebijakan dan strategi secara nasional.

Ia juga menyebutkan ada dua ukuran yang dapat digunakan pemerintah untuk mengarahkan pembangunan industri pariwisata domestik tersebut, yaitu jaminan pertambahan jumlah usaha dan jumlah tenaga kerja di bidang pariwisata.

(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA