Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 15 Des 2020 09:10 WIB

TRAVEL NEWS

Keren Nih, Amsterdam Punya Perumahan Terapung Solusi Banjir

Putu Intan
detikTravel
Amsterdam memperkenalkan perumahan terapung dengan teknologi modern sehingga tidak terendam ketika air pasang. Seperti apa ya?
Perumahan terapung di Amsterdam. (Foto: DW TV)
Jakarta -

Amsterdam memperkenalkan perumahan terapung dengan teknologi modern sehingga tidak terendam ketika air pasang. Seperti apa ya?

Belanda baru-baru ini tengah membangun perumahaan canggih di Amsterdam yang dinamakan waterbuurt atau kawasan air. Perumahaan itu memiliki sekitar 100 rumah yang mengapung di Danau Eimer.

Rumah apung ini didirikan berdekatan dengan dermaga dan dilekatkan ke tiang baja. Ini menyebabkan rumah-rumah tersebut hanya bergerak secara vertikal mengikuti pasang surut air.

Dilansir dari Oddity Central, Selasa (15/12/2020) perumahan itu didesain arsitek Belanda bernama Marlies Rohmer. Rumah di sana disebut punya desain dasar yang sungguh-sungguh seperti rumah pada umumnya dan pada saat yang sama juga nyaman.

Rumah-rumah itu dibangun di galangan kapal sekitar 65 kilometer sebelah utara Danau Eimer yang kemudian diangkut menggunakan jaringan kanal.

Kendati hingga saat ini proyek pembangunan belum sepenuhnya tuntas, beberapa rumah sudah dihuni.

Amsterdam memperkenalkan perumahan terapung dengan teknologi modern sehingga tidak terendam ketika air pasang. Seperti apa ya? Foto: DW TV

Sebagai informasi, dua pertiga populasi Belanda hidup di wilayah yang tingginya di bawah permukaan laut. Kondisi ini mirip dengan Jakarta, sehingga pada zaman penjajahan, dibangunlah bendungan dan kanal-kanal agar air tidak meluap ketika pasang.

Saat ini kondisi banjir di Belanda makin parah karena mencairnya lapisan es. Banyak orang kemudian percaya bahwa hidup di atas air di Eropa justru jauh lebih aman daripada tinggal di daratan.

Apalagi saat ini harga tanah di pusat kota Amsterdam melejit. Ini berbeda dengan wilayah air yang harganya tak semahal tanah di darat.

"Hidup di atas air sudah lebih aman jika Anda tinggal di tempat yang sering terjadi banjir. Sebagian besar kota besar sudah berpenduduk padat dan harga (perumahan) meter persegi meningkat pesat dan air tidak semahal tanah," kata seorang visioner arsitektur air, Koen Olthuis.

"Selain itu, kota terlalu statis, di mana setiap komponen perkotaan yang kita bangun harus bertahan di sana selama 50 atau 70 tahun dan seiring kota berubah, satu-satunya alternatif adalah menghancurkan benda-benda ini," ujar Olthuis.

"Tapi bangunan terapung dapat dipindahkan dan diadaptasi, ini semua tentang menciptakan kembali kota kita sehingga berfungsi lebih baik," dia menambahkan.

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA