Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 09 Jan 2021 20:45 WIB

TRAVEL NEWS

Diduga Tutupi Cacat 737 Max, Boeing Didenda Rp 35 Triliun

Boeing 737 Max: Maskapai Brasil lakukan penerbangan pertama setelah pesawat 20 bulan dilarang terbang, bagaimana di Indonesia?
Boeing 737 Max (Foto: BBC World)
Seattle -

Produsen pesawat dari AS, Boeing didenda USD 2,5 Miliar (setara Rp 35 Triliun). Mereka dituduh menutupi cacat pesawat 737 Max hingga menyebabkan 2 kecelakaan.

Perusahaan pembuat pesawat dari Amerika Serikat, Boeing dihukum denda sebesar USD 2,5 Miliar (setara Rp 35 Triliun). Hukuman denda itu dijatuhkan dengan tuduhan melakukan konspirasi untuk menipu publik Amerika Serikat, lewat pernyataan menyesatkan yang dikeluarkan kepada otoritas berwenang, tentang keamanan pesawat 737 Max buatan mereka.

Boeing dituduh menyembunyikan masalah cacat produksi di pesawat 737 Max yang mengakibatkan dua kecelakaan fatal di tahun 2018 dan 2019. Kecelakaan fatal tersebut melibatkan pesawat asal Indonesia, yaitu Lion Air JT610 tujuan Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Karawang.

Sedangkan kecelakaan fatal lain terjadi pada maskapai Ethiopian Airlines. Akibat kecelakaan tersebut, semua penumpang dan kru dari 2 pesawat itu dinyatakan meninggal dunia. Total ada sekitar 357 orang korban meninggal dari kecelakaan tragis itu.

Boeing dituduh menipu otoritas penerbangan AS soal komponen penting di pesawat mereka, yaitu Manouevring Characteristic Augmentation System (MCAS). Sebenarnya masalah pada MCAS ini sudah ditemukan oleh pilot penguji teknis Boeing pada 2016.

Tapi masalah tersebut disimpan dari otoritas berwenang. Mereka bahkan melakukan perubahan di buku manual pesawat dan buku materi pelatihan untuk para pilot.

"Karyawan Boeing memilih jalan keuntungan daripada terus terang dengan menyembunyikan informasi itu dari Federal Aviation Administration (FAA) mengenai operasional 737 Max dan terlibat dalam upaya untuk menutupi penipuan mereka," ungkap David P Burns, Asisten Jaksa Agung seperti dikutip dari 9News, Jumat (8/1/2021).

Boeing memberi tahu pada pihak maskapai yang membeli pesawat 737 Max, bahwa ada lampu peringatan kritis yang akan memberi tahu pilot jika MCAS diberi data palsu. Tapi beberapa bulan sebelum kecelakaan fatal terjadi, ditemukan fakta bahwa lampu peringatan itu tidak akan bekerja kecuali pihak maskapai membeli fitur yang terpisah.

"Kasus ini mengirimkan pesan yang jelas: Departemen Hukum AS akan meminta pertanggungjawaban dari pabrikan seperti Boeing karena telah menipu pihak regulator penerbangan, terutama di industri dimana taruhannya sangat tinggi," ujar Erin Nealy Cox, Jaksa Penuntut AS.

Lebih dari setengah uang denda yang harus dibayarkan Boeing akan digunakan untuk membayar kompensasi terhadap maskapai yang telah membeli pesawat Boeing 737 Max. Sedangkan, sekitar US$ 500 Juta akan digunakan untuk membayar kompensasi kepada ahli waris korban meninggal dunia 2 kecelakaan fatal Boeing di Indonesia dan Ethiopia.



Simak Video "Maskapai Dunia Ramai-ramai Kandangkan Boeing 737 MAX"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA