Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 05 Feb 2021 11:30 WIB

TRAVEL NEWS

Kasus Penumpang Beli Hasil COVID Test Palsu Juga Ada di Luar Negeri

BBC
detikTravel
Seorang calon penumpang dengan ijin khusus berobat menunjukan surat syarat terbang di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (7/5/2020). Pemerintah melalui  kementerian Perhubungan  membuka kembali penerbangan domestik dengan penumpang bersyarat seperti pebisnis, penumpang Repatriasi, perjalanan dinas pejabat negara  dan tamu negara dengan wajib menyertakan surat keterangan Negatif COVID-19 dari rumah sakit. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nz
Ilustrasi (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, di Indonesia sempat ramai orang yang beli hasi test COVID-19 palsu. Praktek serupa juga terjadi di luar negeri.

Para penumpang yang sangat ingin ke luar negeri menggunakan sertifikat tes palsu COVID-19 untuk memastikan mereka dapat melakukan perjalanan itu, menurut penyelidikan BBC seperti dilansir oleh detikTravel, Jumat (5/2/2021).

Di Afghanistan, praktik ini sangat marak dan mereka yang membeli hasil tes palsu ini termasuk para miliuner dan pejabat pemerintah. Namun, masalah ini juga terjadi di seluruh dunia.

"Pada awalnya, kasus ini sudah sangat parah, sekitar 10-20 orang di satu penerbangan membawa hasil tes palsu. Kasus semakin parah dengan sekitar 50 orang di satu pesawat, dan mereka kemudian ternyata dites positif ketika tiba di tempat tujuan."

Kasus ini mulai terungkap pada akhir Oktober lalu, menurut Mohammad Qasim Wafayeezada, direktur otorita penerbangan Afghanistan, ACAA.

Uni Emirat Arab mewajibkan pengunjung untuk menunjukkan sertifikat tes negatif, polymerase chain reaction (PCR) saat tiba dan menetapkan warga dari 53 negara untuk tes dua kali.

Afghanistan termasuk di antaranya dan Uni Emirat Arab menghadapi gelombang penumpang yang memalsukan hasil tes palsu. Sebagian penumpang membeli hasil tes palsu secara sengaja namun sebagian lain mengatakan tak menyadarinya.

Yasin, seorang pedagang di Kabul, berkunjung ke klinik di ibu kota Afghanistan itu dan membayar tes yang cukup mahal sebelum penerbangan ke Dubai.

"Saya sangat senang karena hasil tes negatif dan saya ke bandara dengan yakin. Mereka memerika tes saya di bandara Kabul namun saat saya tiba di Dubai, mereka melakukan tes lagi dan hasilnya positif."

Yasin - bukan nama sebenarnya - dikarantina dan perjalanan bisnisnya "berantakan" karena sertifikat tes palsu yang ia terima. Ia tetap berkukuh bahwa ia tidak tahu bahwa klinik itu mengeluarkan sertifikat palsu.

Isu ini menjadi sangat serius pada November lalu ketika penerbangan-penerbangan dari Kabul dihentikan sementara. Bandara di kota itu melayani penerbangan internasional 12 kali sehari.

Dr Qasim Wafayeezada menyebut ada lima rumah sakit swasta di Kabul yang terlibat dalam mengeluarkan hasil tes palsu. Semua rumah sakit menyanggah.

Namun, para pejabat pemerintah menuduh klinik-klinik dan para penumpang sendiri sengaja memalsukan hasil tes COVID-19 karena antrean panjang. Dan buntutnya adalah pemberian suap.

Dalam laman Facebooknya, Wakil Presiden Amrullah Saleh mengatakan ada sejumlah tes palsu yang dikeluarkan laboratorium swasta di Kabul.

Ia mengatakan reputasi Kabul terkait standar kesehatan rusak dan ia memperingatkan para agen pemerintah bekerja dengan menyamar untuk mengungkap laboratorium gadungan ini.

"Pemalsuan ini sangat mengguncang perekonomian Afghanistan," tulisanya.

"Sayangnya, dua orang yang membeli sertifikat tes palsu dari laboratorium-laboratorium itu adalah orang terkenal dan taipan di negara ini."

"Puluhan relawan dari badan kemananan Afghanistan akan melakukan tes dengan membayar suap untuk mengungkap laboratorium mana yang korup," tulisnya lagi.

Selanjutnya: Pejabat dan anggota parlemen terlibat

Selanjutnya
Halaman
1 2 3
BERITA TERKAIT
BACA JUGA