Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 11 Feb 2021 23:07 WIB

TRAVEL NEWS

Curhat Pedagang Glodok: Omset Imlek Turun 20% Gara-gara COVID!

Putu Intan
detikTravel
Pedagang pernak-pernik Imlek
Foto: Pedagang di Glodok (Putu Intan/detikTravel)
Jakarta -

Perayaan Imlek saat pandemi COVID-19 memang berbeda. Suasana lebih sepi, omset pedagang pun turun sampai 20%.

Para pedagang di Pasar Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, tetap berjualan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek pada Jumat (12/2/2021). Mereka menjajakan aneka pernak-pernik Imlek, mulai dari lampion, baju, amplop angpao, kue keranjang, buah jeruk, hingga ikan bandeng.

Meskipun suasana Imlek cukup terasa di sana, hiruk pikuk pasar ini lebih sepi dibandingkan dalam kondisi normal di mana tak ada pandemi COVID-19. Dari pengamatan detikcom, pembeli hanya datang ke toko-toko tertentu. Sementara lapak-lapak di pinggir lalu lintasnya lebih lengang.

Salah satu pedagang bernama Eeng mengungkapkan saat ini kondisi pasar memang sepi. Padahal biasanya sehari sebelum perayaan Imlek, banyak orang akan berburu perlengkapan Imlek.

"Penjualan turun 20 persen dari biasanya. Ya karena pandemi," kata dia.

Eeng sendiri menjual berbagai pakaian Imlek yang disebut cheongsam. Harganya berkisar Rp 50 ribu-Rp 500 ribu.

"Biasanya para orang tua yang datang ke sini membelikan cheongsam untuk anak-anak. Tapi sekarang sepi," ujarnya.

Berbeda dengan cheongsam yang lebih sepi peminat, barang dagangannya yang lain lebih laris yaitu dodol atau kue keranjang. Ini lebih banyak dicari sebab kue keranjang merupakan hidangan wajib saat Imlek.

"Ini (kue keranjang) setahun sekali keluarnya. Yang nyari tetap ada karena memang harus ada. Ini kan nanti dipotong, dibagi-bagi ke keluarga. Sifatnya lengket jadi artinya orang yang datang supaya akrab," ia menjelaskan.

Eeng yang merupakan keturunan Tionghoa juga bakal merayakan Imlek dengan lebih sederhana tahun ini. Tak ada kumpul-kumpul keluarga besar.

"Kami kumpul tapi dibagi jadwalnya. Jadi akan dibagi selama dua jam, dua jam. Tidak bisa langsung sekaligus," katanya.

Tradisi yang masih ia lakukan bersama keluarga di rumah ada makan bersama dan sembahyang bersama di rumah. Mengingat klenteng tidak dibuka untuk ibadah massal.

"Malam jam 7 makan keluarga. Pembagian angpao itu juga wajib, dari yang tua untuk yang muda tapi sekarang bisa lewat transfer,"ujarnya.

"Kita harus masing-masing tahu diri. Keadaan (pandemi COVID-19) begini jangan maksain. Kita juga tidak akan keluar. Kita sembahyang di rumah juga sama saja, menghadapnya ke Tuhan juga," pungkasnya.



Simak Video "Harapan Warga Etnis Tionghoa di Tahun Kerbau: Covid Segera Berakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA