Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 19 Mar 2021 11:12 WIB

TRAVEL NEWS

Masa Depan Perjalanan Udara: Pesawat Tanpa Emisi

Syanti Mustika
detikTravel
Ilustrasi pesawat
Ilustrasi pesawat (iStock)
Toulouse -

Tak hanya kendaraan di darat, pesawat juga di masa depan bakal menggunakan tenaga penggerak yang ramah lingkungan, tanpa emisi. Pesawat tanpa emisi untuk perjalanan udara yang berkelanjutan.

Sekedar informasi, industri penerbangan menyumbang 2% dari emisi karbondioksida (CO2) buatan manusia. Pada 2050, ini diperkirakan kontribusinya akan meningkat hingga 22% jika tidak ada perubahan. Para ilmuwan pun menyarankan para pembuat kebijakan untuk memodifikasi emisi pesawat.

Seperti gayung bersambut, perusahaan besar mulai perlahan-lahan sadar akan peran emisi pesawat, hingga timbul gagasan pesawat tanpa emisi.

Dirangkum detikcom, Jumat (19/3/2021) Airbus baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka berencana untuk memperkenalkan pesawat komersial tanpa emisi pada tahun 2035. Airbus telah mengungkapkan tiga konsep untuk pesawat komersial tanpa emisi pertama mereka, masing-masing mewakili pendekatan yang berbeda soal pesawat tanpa emisi.

"Saya sangat yakin bahwa penggunaan hidrogen, baik dalam bahan bakar sintetis maupun sebagai sumber tenaga utama untuk pesawat komersial. Hal ini berpotensi mengurangi dampak iklim penerbangan secara signifikan," ungkap Guillaume Faury, Chief Executive Officer Airbus dalam sebuah pernyataan.

Dari ketiga konsep pesawat Airbus tersebut, desain turbofan mampu menampung 120-200 penumpang. Desain turboprop dapat menampung hingga 100 penumpang dan badan sayap campuran dapat menampung hingga 200 penumpang.

Adapun kabar lainnya, Norwegia juga sedang mengerjakan pesawat tanpa emisi. Bangsa ini berharap bisa membuat pesawat penumpang listrik pertama pada tahun 2026.

Pesawat listrik ini dikembangkan oleh Rolls-Royce dan perusahaan perancang pesawat, Tecnam. Pesawat itu dinamai P-Volt, dan hanya mampu menampung 9 penumpang. Namun, ini tentunya merupakan jalan ke depan untuk industri penerbangan, dan perkembangan positif untuk penerbangan dan perjalanan yang berkelanjutan.

Tahun 2019 lalu para ilmuwan MIT memberi masukan bagi pembuat kebijakan untuk memodifikasi emisi pesawat. Emisi itu memperburuk kualitas udara dan berkontribusi pada ribuan kematian setiap tahunnya.

Dalam konferensi perubahan iklim COP25 tersebut, temuan mereka dapat memberi solusi dalam upaya menghindari dampak global yang mengerikan akibat dari gas yang membendung. Dalam Laporan Kesenjangan Emisi PBB, semua negara perlu dengan cepat mengurangi emisinya

Studi para ilmuwan, yang diterbitkan di Environmental Research Letters, merinci bagaimana komponen-komponen pembuangan pesawat berdampak pada iklim global dan kesehatan manusia. Pro dan kontra kebijakan pasti terjadi dalam tujuan mengurangi emisi ini.

"Hasil dari makalah ini memungkinkan kita mengetahui apa pengorbanannya sebagai pengganti. Misalnya, mengurangi satu komponen emisi pesawat dapat menyebabkan peningkatan komponen lainnya untuk memastikan teknologi bekerja dengan tepat," kata Dr. Florian Allroggen, salah satu peneliti utama dalam penelitian ini.

Para ilmuwan menemukan bahwa tiga komponen emisi pesawat bertanggung jawab atas 97% dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Adapun komponen itu yakni nitrogen oksida, karbon dioksida, dan contrails, semuanya terbentuk ketika uap air mengembun pada partikel emisi.



Simak Video "Rekor! Atlet Ini Berhasil Menarik Pesawat Seberat 40 Ton"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA