Pemerintah resmi melarang mudik 6-17 Mei 2020. Garuda Indonesia menyebut mengalami penurunan pemesanan tiket di periode larangan mudik tersebut.
Dalam Virtual Media Gathering #KebersamaanTanpaBatas Pegipegi, Selasa (20/4/2021) Asa Perkasa, regional CEO Jakarta Raya Garuda Indonesia, mengungkapkan bahwa maskapai pelat merah itu 'kehilangan' tiket di masa larangan mudik. Tapi, ada peningkatan di tanggal sebelum dan sesudah periode larangan.
"Kita mengalami penurunan 40% di periode 6-17 Mei. Namun orang-orang ini pindah ke before dan after. Jadi periode 1-5 Mei naik cukup tinggi, begitu pula 18-20 Mei. Ada sekitar 1.000 tiket yang tumbuh di periose sebelum dan sesudah ini. Jadi keliatannya orang Indonesia ini mudah beradaptasi dan dia pasti bisa memanfaatkan itu. Jadi mereka pergi sebelum larangan dan balik lagi setelah larangan," ujar Asa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh wacana akan kembalinya masuk sekolah bertatap muka. Jadi, sebagian besar orang memanfaatkan sebaik mungkin bisa terbang sebelum masa itu.
"Mungkin beberapa orang memastikan bisa terbang karena Juni sudah mulai ada sekolah offline. Jadi kapan lagi terbang bersama keluarga kan? Mungkin di periode inilah mereka bisa memanfaatkan. Larangan mudik tetap larangan, namun banyak orang yang mencoba menggesernya. Mungkin tidak lebaran ke orangtua atau ziarah ke makam orang tua. Mereka lakukan itu menjelang puasa untuk pulang dan balik lagi," kata dia.
"Periode ini menjadi lebih ramai dibandingkan dengan larangan mudik. Di situ yang kita coba pastikan, di periode itu kita tambahkan ekstranya karena permintaannya tumbuh. Bahkan, untuk ke Bali sekarang kita pastikan pesawat yang white body yang terbang ke sana, airbus yang ke Bali. Dan ini cukup bagus juga dan tanggal 5 Mei menunjukkan kalau ke Bali sudah penuh," Asa menjelaskan.
Di kesempatan tersebut Asa menghimbau wisatawan untuk tetap mematuhi aturan larangan mudik dari pemerintah. Namun jika memang harus terbang, dia mengingatkan agar traveler bepergian dengan dokumen persyaratan yang komplet.
"Imbauan kami tolong dipatuhi, pemerintah bermaksud baik untuk memutus mata rantai pandemi. Dan untuk itu ada aturan yang harus dipenuhi bila tetap harus terbang pada 6-17 Mei. Jadi tolong ini dipatuhi supaya kita bisa melayani dengan baik, tidak menumpuk di airport karena ternyata dokumen tidak lengkap dan tidak bisa terbang. Jadi ada baiknya diperiksa dulu dipastikan lengkap barulah menuju bandara," ujar Asa.
(sym/fem)
Komentar Terbanyak
Bangunan yang Dirusak Massa di Sukabumi Itu Villa, Bukan Gereja
Aturan Baru Bagasi Lion Air, Berlaku Mulai 17 Juli 2025
Brasil Ancam Seret Kasus Kematian Juliana ke Jalur Hukum