Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 08 Mei 2021 13:15 WIB

TRAVEL NEWS

Ini Bolong Besar dari Sebuah Perusahaan Otobus

PO SAN
PO SAN (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Jakarta -

Ada satu kekurangan utama dalam sebuah perusahaan bus. Dikatakan pendiri PO SAN, kekurangan itu berkutat pada manusianya. Maksudnya?

Kata Haji Hasanuddin Adnan selaku Komisaris Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN), para pengusaha bus saat ini masih lemah di sumber daya manusia (SDM). Posisi yang dimaksud adalah bagian kru busnya.

"Lemahnya pegusaha bus ya SDM. Mereka bisa nyetir tapi belum tentu (lulus) SMA aja bisa dihitung jari yang di kami dari sekian ratus orang," kata dia beberapa waktu lalu.

"Efeknya? Kita harus latih mereka. Kalau nggak ya dia bisa gagal itu," imbuh dia.

Untuk diketahui, penjelasan mengenai lemahnya pendidikan para kru bus akan dibahas lebih lanjut di artikel selanjutnya.

Kembali ke Haji Hasan, para kru bus yang pendidikannya terbilang rendah harus beradaptasi dengan teknologi terkini yang digendong oleh bus terbaru. Jika tak dilatih, mereka bisa gagap dalam mengemudikannya.

"Apalagi sekarang dengan ditambah teknologi, mobil-mobil premium sudah elektronik, kalau nggak kita latih kita bisa gagal," jelas Haji Hasan.

"Kalau kami sekarang membeli tipe baru kita adakan training dulu. Beda, kalau dulu mobil kan belum Euro, mobil kan masih manual sekarang sudah matic dan lain-lain. Jadi pengemudinya harus trampil," imbuh pendiri PO SAN itu.

"Jadi harus bisa membaca parameter di depan yang bisa memberitahu ada warning engine bermasalah, gerbong malfungsi, itu kan harus kita latih dulu mereka. Jadi kalau kendaraan canggih nggak bisa dikemudiin yang tidak berpengetahuan," kata dia lagi.

Lalu, Haji Hasan menyinggung masalah sertifikasi yang masih belum jalan di Indonesia. Ia membandingkannya dengan para pengemudi di luar negeri.

"Intinya harus dilatih. Kalau di negara lain, pengemudi itu harus punya sertifikasi, sedang di Indonesia ada amanah di undang-undang tapi nggak jalan," tegas Haji Hasan.

Dengan bangga Haji Hasan membeberkan bahwa PO SAN memiliki bengkel yang bagus di Bengkulu. Semua bagian perbaikan sudah terbilang bagus dan bisa diandalkan untuk perawatan busnya.

"Lihat bengkel PO SAN di Bengkulu, standarnya sudah terbilang baik. Ada ruang ban sendiri, oli, hingga engine sendiri. Kemudian mobil harus dicuci, tempat perawatan breaking system, punya izin limbah standar tinggi," jelas dia.

"Kami bisa menyediakan itu karena kami butuh perawatan. Tanpa perawatan yang baik nggak akan ada efisiensi operasional," imbuh dia.

"Kedua, kalau di PO SAN kita nggak memeriksa breaking system kita bisa berakibat fatal. Steering system kita juga harus begitu, jadi harus perawatan berkala harus benar," kata dia lagi.

Pengemudi untuk jalur Sumatera

Haji Hasan menyebut bahwa pengemudi untuk jalur Sumatera itu berbeda. Jangan juga dibilang kalau bus sudah oke di Jawa akan sama bila beroperasi di Sumatera.

"Begitu juga ketrampilan pengemudinya. Baik fisik, feeling, kecakapan ketepatan waktu dan fokusnya membawa kendaraan itu penting," jelas dia.

"Itu yang harus kita latih dan kawal terus. Kalau nggak ya kita bisa bolak balik kecelakaan. Mabok kita, rugi" imbuh dia.

Lebih lanjut, Haji Hasan menyinggung soal efisiensi dalam sebuah PO, kalau perawatan benar, mobil yang lancar berjalan akan dicek saat pulang dan pergi. Kondisi ban nggak boleh dipaksa pemakaiannya karena operasional bisa terhambat.

"Memang detail kalau bus itu. Kalau mau untung jadi pengusaha bus ya harus efisien perawatan terus minimal laka," jelas pendiri PO SAN itu.



Simak Video "Perjalanan Menuju Ranu Segaran Probolinggo Jawa Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA