Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 08 Mei 2021 17:45 WIB

TRAVEL NEWS

Begini Persaingan PO Jawa dan Sumatera

Pemudik berada di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur, Selasa (4/5/2021). Jumlah penumpang yang berangkat dari Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, terus meningkat menjelang diberlakukannya aturan larangan mudik Lebaran 2021.
Bus di Terminal Pulo Gebang (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Hampir dua dekade PO SAN melebarkan sayap mengaspal ke Pulau Jawa. Perjuangannya tidaklah mudah karena harus melawan para raksasa.

Meski demikian, PO SAN tak minder. Mereka tak mau berada di zona nyaman dan berkutat di Sumatera saja.

"Kami mengembangkan sayap dari Bengkulu-Riau ke Jawa itu tahun 2002-2003. Kompetitor kami raksasa semua," kata Kurnia Lesani Adnan, direktur utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN), beberapa waktu lalu.

"Tapi sifat manusia yang berada di zona nyaman ini yang bikin cilaka. Artinya, saat itu kami mempelajari, yang eksis seperti apa, kita baca lemahnya di mana celah itu yang kita masuki," dia menambahkan.

Selain mencari celah yang ada, PO SAN harus melayani penumpang yang tidak dilayani PO lain atau persaingannya rendah. Hingga akhirnya, perusahaan ini merajai di jalurnya.

"Jadi SAN itu melayani yang tidak dilayani orang, awalnya. Hari ini bisa dicek di market siapa leader atau pioner siapa. Riau ke Jawa Timur," kata Sani.

Dalam mencari celah itu, PO SAN benar-benar memperhatikan apa yang bisa diambil alih dan mempelajari bagaimana pelajaran PO dari Jawa.

Perilaku PO Jawa

Dahulu perusahaan otobus dari Jawa diklaimnya kurang menghargai penumpang. Nah, PO SAN mau mengubah itu jadi lebih baik.

"Dulu PO-PO Jawa itu sudah terbiasa melayani orang, 'Wes nek wes numpako meneng--- Sudah kalau sudah naik diam saja!'" kata Sani.

"Mereka nggak menghargai. Penumpang itu nggak dianggap sama sekali," dia menambahkan.

"Misal rusak mobilnya, dibiarin aja orang itu, nggak ada tanggung jawab. Di kami, kami ubah memanusiakan manusia, transport with care tadi," dia menguraikan.

Sani menyebut PO SAN tak lagi memiliki kru yang berani berbicara kasar. Kru juga nggak boleh berbicara kalau mau cepat naik pesawat saja jika ada yang komplain busnya lambat.

"Di kami, penumpang kalau sampai nggak turun di tiap tempat makan akan ditanya. 'Kok nggak makan kenapa? Bapak sakit atau kenapa? Kalau tak ada uang makan akan kami tanggung.' Itu ke mana-mana ceritanya," kata dia.

"Lalu kita terkenal on time, di rumah makan, pengemudi akan memberi waktu selama 30-40 menit. Kami atur harus masuk Solo jam sekian," dia menambahkan.

"Titik pemberhentian diatur tak terlalu banyak. Titiknya dikira-kira pas penumpang lapar. Alasannya adalah agar pengemudi ini tak ugal-ugalan di jalan," Sani menjelaskan.

Tak hanya itu, bila PO SAN mengalami masalah di jalan dan menjelang lima jam, makan penumpang akan dicukupi. Kalau ada kejadian di luar dugaan, hal pertama yang dilakukan adalah evakuasi penumpang ke tempat yang layak.

"Masalah mobil kedua. Dengan begitu kami mendapat posisi di market. Kebanyakan PO dulu itu karena sudah ramai nggak memikirkan hal-hal kecil. 'Segitu aja laku kok!'" dia menegaskan.



Simak Video " Kenalan dengan Bus Double Glass yang Diminati PO- penumpang"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA