Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 09 Mei 2021 19:20 WIB

TRAVEL NEWS

Kisah Burung yang Jadi Cikal Bakal Nama Maskapai Merpati Nusantara

Hari Suroto
detikTravel
Merpati Nusantara Airlines
Foto: Ilustrasi Merpati (Luthfy Syahban/infografis)
Jayapura -

Papua memiliki sejenis merpati endemik yang hidup di dataran rendah yang bernama mambruk. Nama burung inilah yang jadi cikal bakal maskapai Merpati Nusantara.

Mambruk hidup di lantai hutan, kadang dapat dijumpai terbang rendah melintasi hutan terbuka. Mereka dapat diketahui dari suaranya "hum" yang dalam dan bertalu-talu.

Burung mambruk ini memiliki tinggi 75 cm, pada bagian kepala berjambul kipas biru kelabu, berukuran sangat besar dengan dada dan bahu coklat kemerah-merahan, dan garis sayap putih.

Mambruk memiliki telur berwarna putih tunggal dalam sarang terbuat dari ranting kering, palem, dan daun kering, sarang ini berada pada ketinggian 3,5 sampai 15 m di atas permukaan tanah, diletakkan pada percabangan atau dahan pohon.

Makanan utama burung mambruk adalah buah-buahan yang jatuh dan biji-bijian. Bila terganggu, burung mambruk akan berjalan pergi, dan hanya jika sangat terpaksa akan terbang melintas pepohonan.

Hal ini dilakukannya sambil mengeluarkan suara tepukan sayap yang ribut. Saat bertengger di atas dahan, burung mambruk akan menggerakkan ekornya dengan gelisah ke atas dan ke bawah.

Karakter burung mambruk adalah mudah percaya pada manusia, sehingga memudahkan burung ini untuk dipanah, atau ditangkap dan dijual sebagai hewan piaraan.

Mambruk oleh Belanda dijadikan nama maskapai di Papua hingga 1962, yaitu maskapai de kroonduif, sebagai anak usaha maskapai KLM.

Berpusat di Bandara Mokmer, Biak, maskapai de kroonduif melayani penerbangan di wilayah Papua serta ke Sydney dan Papua Nugini.

Kemudian oleh Indonesia de kroonduif diganti nama menjadi maskapai Merpati Nusantara.

Nama latin burung ini yaitu Goura scheepmakeri, goura adalah nama asli dan diduga berasal dari kawasan Fakfak, sedangkan scheepmakeri adalah seorang serdadu Belanda, C. Scheepmaker yang juga kolektor burung pada abad ke-19.


---
Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Aksi Keji Teroris KKB di Pegunungan Bintang Papua"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA