Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 03 Jun 2021 07:12 WIB

TRAVEL NEWS

Malaysia Lockdown 14 Hari, Apa Imbasnya ke Sektor Pariwisata?

Novia Aisyah
detikTravel
Malaysia mulai melakukan lockdown total per tanggal 1 Juni 2021. Lockdown dilakukan usai kasus COVID-19 di negara tersebut terus mencetak rekor.
Ilustrasi wisata Malaysia (AP Photo/Vincent Thian)
Jakarta -

Malaysia mengumumkan lockdown selama 14 hari, terhitung tangal 1 Juni hingga 14 Juni 2021. Kebijakan lockdown itu berimbas kepada sektor wisata.

Sebagaimana diberitakan oleh The Star, keputusan lockdown nasional itu diputuskan dalam rapat khusus Dewan Keamanan Nasional Malaysia yang diketuai oleh Perdana Menteri Tan Sri Muhyiddin Yassin pada Jumat lalu (28/05/2021).

Kantor Perdana Menteri menyatakan bahwa keputusan lockdown nasional Malaysia mengacu pada lonjakan kasus COVID-19 yang tembus angka 8.000 dengan lebih dari 70.000 kasus aktif pada Jumat lalu (28/05/2021).

Meskipun menerapkan lockdown total, mengutip dari Reuters, beberapa sektor diperbolehkan tetap berjalan. Sektor produksi alat pelindung diri, listrik, elektronik, minyak dan gas, serta produk kimia diperbolehkan tetap beroperasi hanya dengan 60 persen tenaga kerja.

Selain sektor-sektor tersebut, dalam jumpa persnya, Menteri Pertahanan Malaysia Ismail Yaakob juga menyatakan bahwa sektor makanan dan minuman, penerbangan, pengemasan dan percetakan, perawatan medis, serta perawatan pribadi dan perlengkapan kebersihan tetap diperbolehkan beroperasi.

Bagaimana dengan sektor pariwisatanya? Sebagai imbas dari kebijakan lockdown di Malaysia ini, para pelaku industri pariwisata lokal meminta pemerintah Malaysia untuk memberikan dukungan untuk mempertahankan industri tersebut dalam jangka panjang agar bisnis tetap bisa bertahan.

Menurut The Star, Bendahara Kehormatan Matta (Malaysian Association of Tour and Travel Agents) Faeez Fadhlillah berharap bahwa pemerintah akan mendukung pariwisata lokal. Sebabnya, selama pandemi berlangsung sektor tersebut juga selalu mendukung kebijakan pemerintah kendati babak belur.

Selama lockdown hotel-hotel dibuka hanya untuk kepentingan karantina dan isolasi, sedangkan untuk kebutuhan pariwisata tidak.

Faeez mengungkapkan, "Kunci dari mengatasi krisis ini terletak pada koordinasi yang baik antara pemerintah dan sektor swasta, untuk memastikan bahwa kita dapat melewati ini dengan imbas seminimal mungkin."

Menurut Faeez, sektor pariwisata dan kegiatan ekonomi terkait di Malaysia telah merugi hingga lebih dari RM 100 miliar atau sekitar Rp 346 triliun sejak dimulainya pandemi tahun lalu. Sementara itu, Malaysian Association of Hotels (MAH) menyatakan bahwa sektor perhotelan telah merugi lebih dari RM 6,53 miliar pada tahun 2020.

Menyusul kebijakan terbaru pemerintah Malaysia ini, Matta meminta lima hal untuk meredam risiko. Kelima poin tersebut termasuk moratorium pinjaman otomatis, perpanjangan subsidi hingga akhir tahun, pembatalan Travel & Tour Enhancement Course (TTEC), dan bantuan keuangan untuk agen perjalanan yang terdampak.

Menanggapi Malaysia yang lockdown total, Faeez juga bilang bahwa Matta berupaya untuk menggolkan proposal Federasi Asosiasi Bisnis Malaysia dalam hal subsidi upah yang diberikan pada semua staf yang berpenghasilan kurang dari RM 4.000 dan subsidi 30 persen (dibatasi pada RM 3.000) bagi mereka yang penghasilannya di atas RM 4.000 atau sekitar Rp 13,8 juta.



Simak Video "Malaysia Lockdown Nasional 2 Minggu, Semua Mal Harus Tutup!"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA