Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 05 Jul 2021 18:45 WIB

TRAVEL NEWS

Hotel Banyak yang Bangkrut Ini Saran Akademisi agar Tetap Bertahan di Masa Pandemi

Dinda Ramadanti
detikTravel
Resepsionis hotel memakai masker saat pandemi virus Corona.
Ilustrasi hotel. Foto: Getty Images/andresr
Bandung -

Industri perhotelan terpukul hebat akibat pandemi COVID-19. Akademisi memberikan sejumlah saran agar industri ini tak terpuruk makin dalam.

Sebelum adanya pandemi ini, pariwisata termasuk ke dalam leading sector. Pariwisata menempati peringkat kedua setelah migas yang memiliki kontribusi besar baik untuk devisa maupun produk domestik bruto.

Namun sejak COVID-19 menjangkiti Indonesia pada Maret 2020, jumlah permintaan dan penawaran sektor ini cukup terpengaruh yang menyebabkan penurunan yang cukup besar.

Secara teori dalam konsep analisis PESTEL, pandemi ini termasuk dalam unsur lingkungan (environmental) yaitu faktor eksternal yang tidak bisa diprediksi maupun dikontrol. Seluruh aspek 3A dalam pariwisata yaitu atraksi, aksesibilitas, dan amenitas terkena dampak dari pandemi COVID-19 tersebut.

Hotel sendiri masuk dalam aspek amenitas, di mana ketika aspek ini tidak berjalan, pengelolaan dan pengembangan aspek lainnya juga tidak akan maksimal.

Salah satu akademisi di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, Andar Danova L Goeltom menjelaskan mengenai perubahan secara makro, bahwa hotel terkena dampak paling besar.

"Secara statistik hotel mengalami penurunan yang sangat besar. Bahkan banyak hotel yang bukan hanya mengalami penurunan namun sudah selesai dalam beroperasi atau sudah dianggap gulung tikar karena tidak mampu memenuhi/menyelesaikan kewajibannya. Banyak hotel tutup yang sudah berubah fungsinya," Nova mengungkapkan.

Namun di sisi lain, ada blessing in disguise yakni industri perhotel harus ada kreativitas baru atau inovasi. Hal yang dapat dilakukan sekarang adalah mengubah pasar atau merubah produk, misalnya membuat paket staycation lengkap dengan aktivitas hiburan, makan dan minum atau menjadikan hotel untuk isolasi mandiri (isoman).

Untuk menghadapi persepsi buruk dari masyarakat tentang hotel bekas isoman, bisa membangun kepercayaan customer dengan terbuka untuk menyampaikan tentang informasi yang real seperti sertifikasi yang dimiliki dalam program kerjasama dengan rumah sakit.

Selain itu, bisa juga hotel menyampaikan bahwa tempatnya itu hanya dibuka untuk isoman atau hybrid serta informasi pembagian zonasi kamar isoman dan umum.

Solusi lain agar industri hotel dapat bertahan yaitu berupa pengalihan fungsi tinggal sementara (temporary staying) yang tadinya hanya untuk pekerja di hotel menjadi massive market dengan zona yang memang aman. Selanjutnya Nova mengatakan para pelaku bisa melakukan merger dengan brand ternama.

"Untuk bisnis itu tetap survive bisa juga membranding dengan nyantol sama brand yang sudah kuat karena dalam bisnis itu cuma ada 2, dia mau bersaing atau bekerja sama?" ujarnya.

Kerja sama lainnya yang bisa dilakukan yaitu dengan pemerintah, seperti yang dilakukan Los Angeles dalam paket perjalanan vaksin Pfizer. Keuntungan yang didapatkan yaitu hotel akan terlibat dalam penyediaan akomodasi dalam perjalanan tersebut.

"Kalau hotel mau berhasil jangan sendiri, hotel juga harus mau bergandengan tangan dengan pemerintahnya," tutupnya.



Simak Video "PPKM Bikin Okupansi Hotel di Kawasan Puncak Lesu"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA