Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 30 Jul 2021 11:05 WIB

TRAVEL NEWS

Pandemi Belum Berakhir, Bagaimana Pusat Perbelanjaan Bertahan?

Suasana Mal Kota Kasablanka (Tiara Aliya/detikcom)
Foto: Ilustrasi Mal (Tiara Aliya/detikcom)
Jakarta -

Sudah setahun lebih pandemi melanda. Sektor ekonomi terdampak, tak terkecuali pusat perbelanjaan. PPKM Darurat sudah diberlakukan sejak awal Juli lalu. Kebijakan ini berpengaruh pada penutupan tempat wisata hingga mall. Bagaimana pusat perbelanjaan dan tenant di dalamnya bertahan di tengah pandemi ini?

Pengelola pusat perbelanjaan memiliki dua customer, yaitu visitor dan tenant. Ketua Umum APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia), Alphonsus Widjaja mengatakan pengelola harus memiliki paradigma baru di masa new normal

"Kita tahu semua dengan pandemi ini adalah kita harus adaptasi dengan new normal untuk bisa ke arah new normal tentunya kita harus punya new paradigm paradigma baru khususnya bagi pengelola belanja terhadap visitornya, customernya visitor dan juga customer yang satu lagi tenant," kata Alphonsus dalam Tenant's Coffee Break: Shopping Mall: What's Next? In Time of Recovery yang diselenggarakan oleh MarkPlus,Inc.

Menurut Alphonsus, pelanggan pusat perbelanjaan sebetulnya 'Tidak perlu lagi tempat belanja', karena sekarang banyak alternatif untuk belanja, terutama dengan cara online. Akan tetapi mereka butuh untuk melampiaskan nalurinya sebagai makhluk sosial.

"Jadi, mereka tidak perlu tempat belanja, karena banyak alternatif tetapi satu sisi mereka punya kebutuhan untuk sesuatu untuk melampiaskan nalurinya sebagai makhluk sosial khususnya untuk berinteraksi secara langsung," tambah Alphonsus.

Sementara tenant perlu berjualan dengan konsep baru, dengan cara baru. Mereka memerlukan satu konsep belanja supaya barang-barangnya laris terjual. Nah di sini lah tugas pengelola menyatukan dua kepentingan ini.

"Jadi pusat perbelanjaan harus bisa memberikan satu konsep, bukan hanya sekedar tempat berjualan, bukan lagi menjual place of business tetapi placenya harus dicoret jadi harus menjadi bisnis," kata Alphonsus.

"Jadi pusat perbelanjaan harus bisa memberikan kenyamanan satu tempat bukan hanya sekedar menyewakan tempat tetapi lebih kepada bisnisnya, karena tenant ini mereka perlu sekali konsep baru bukan hanya sekedar berjualan saja," tambahnya.



Simak Video "Suasana Hari Pertama Pembukaan Mal di Purwokerto"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA