Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 01 Agu 2021 07:00 WIB

TRAVEL NEWS

Bukan Lagi Adaptasi, Mal Harus Betransformasi

Sejumlah mal di Jakarta mulai dibuka untuk umum di masa PSBB transisi salah satunya di Mal Kokas. Namun, antreannya panjang banget.
Foto: Ilustrasi mal (Soraya Novika/detikcom)
Jakarta -

Tantangan demi tantangan dihadapi industri ritel dan pusat perbelanjaan di tengah pandemi. Pegiatnya pun harus bertahan ekstra keras.

Founder & Chairman MarkPlus Icn, Hermawan Kartajaya, tak hanya adaptasi tapi pusat perbelanjaan harus bertransformasi. Format baru harus digagas oleh pisat perbelanjaan dan retail.

"We are thinking about the future, apa yang harus dilakukan mal, ketika menyongsong post pandemi apalagi Indonesia menuju 2030, 2021 is the first year in a new decade. 2020 kita adaptasi saja seperti ketika PPKM pusat perbelanjaan tutup, dan lain sebagainya. 2021 tidak boleh lagi adaptation, harus disertai transformation. Kita harus prepare untuk new format of mall & new format of retail," kata Hermawan.

Sementara Business Development Director of Pakuwon Group, Iva Wong menegaskan pentingnya strategi Omni Channel untuk mempertahankan tenant di masa pandemi. Dia meyakini online shopping akan membuka pop up store di mal.

"Everyone wants a new concept and something new, saya percaya dalam kondisi sekarang akan menjadikan satu impact bahwa online shopping akan buka pop up store di mal, supaya dapat spectrum of customer yang berbeda. At the end of the day kita harus cari satu titik untuk bisa kerja dengan omni channel, offline dan online, both of them have to work well together," kata Ivy.

Sepakat dengan pernyataan Ivy, Managing Director di Sogo Indonesia, Handaka Santosa menegaskan pentingnya mengetahui tren pasar dan pentingnya pengalaman customer. Ada konsep dan teori departemen store yang harus diubah.

"Department store saat ini harus mengubah konsep, teori yang menyebut one stop shopping harus di-implement dikombinasikan dengan apa yang disebut customer service, dan attitude dari team yang melayani juga harus beda," kata Handaka.

"Saat ini orang menganggap department store jualan pakaian, sepatu, kosmetik, dan lain-lain. Tapi saat ini dalam rangka mengubah SOGO kami sudah membuka apotik, keperluan farmasi dan booth tepat di pintu utama kami. Agar orang juga melihat bagaimana trend kebutuhan customer," tegas Handaka.

Pusat perbelanjaan diperkirakan masih sulit bangkit. Sehingga customer confidence menjadi strategi yang harus ditingkatkan.



Simak Video "6 Provinsi dengan Mobilitas ke Pusat Perbelanjaan Tertinggi di RI"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA