Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 05 Agu 2021 14:30 WIB

TRAVEL NEWS

Pilu Penginapan Air Panas Pertama Ciwidey Semasa PPKM: Sepi-Rugi Ratusan Juta

Muhammad Iqbal
detikTravel
Penginapan air panas pertama Ciwidey.
Penginapan Pondol Gembyang di Ciwidey (Muhammad Iqbal/detikcom)
Kabupaten Bandung -

Sejumlah hotel dan jasa penginapan di kawasan wisata Ciwidey, Kabupaten Bandung nampak sepi. Meski dibuka dengan kapasitas 50 persen mereka pun ikut terdampak akibat penutupan seluruh tempat wisata di Kabupaten Bandung.

Seperti dialami jasa penginapan Pondok Gembyang. Pondok Gembyang diketahui sebagai tempat penginapan air panas pertama di Ciwidey. Mereka sudah menjajakan penginapan sejak 1995 silam, sebelum penginapan mewah dan fasilitas privat ramai di Ciwidey.

Dari pantauan detikcom, Kamis (5/8/2021), tidak ada satu kendaraan pun yang terparkir di sana. Seorang pelayan pun hanya dapat duduk termenung sembari menunggu ada telepon pesanan berdering.

Sejak pembatasan yang diterapkan pemerintah, PSBB, PPKM, hingga PPKM Level 4 diberlakukan, pengunjung yang menginap terus mengalami penurunan. Hal tersebut mempengaruhi pada omset mereka yang juga ikut merosot.

Penginapan air panas pertama Ciwidey.Penginapan air panas pertama Ciwidey ini ikut mengalami kesulitan di masa PPKM (Muhammad Iqbal/detikcom)

Pemilik Pondok Gembyang, Yanuar Ahmad Safari (41) menuturkan, sebelum ada COVID dan penerapan pembatasan di sana selalu sibuk melayani pelanggan. Bahkan, 30 kamar yang tersedia selalu penuh bila masuk akhir pekan.

"Sekarang paling satu atau dua. Mungkin penginapan yang lain sudah lebih parah dari kami," ujar Yanuar menceritakan kondisi bisnisnya di Pondok Gembyang, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Kamis (5/8/2021).

Alhasil, pendapatan pun merosot. Yanuar mengatakan, dirinya merugi sekitar ratusan juta. Pasalnya meski dibuka 50 persen, pengunjung ke Pondok Gembyang didominasi oleh wisatawan yang rehat setelah berwisata.

Wisata Ciwidey kibarkan bendera putihWisata Ciwidey kibarkan bendera putih (Muhammad Iqbal/detikcom)

Yanuar mengatakan, pada dua bulan lalu, penghasilan mereka hanya Rp 2 juta saja. Uang itu tidaklah cukup untuk membiayai segala macam kebutuhan penginapan.

"Pokonya kita rugi besar, biasanya malam minggu kalau full bisa Rp 20 juta, kalau hari biasa bisa Rp 5 juta. Lebih Rp 100 juta ruginya pak," tutur Yanuar.

"Begini pak, pendapatan Juni-Juli kita hanya dapet Rp 2 juta. Itu hanya cukup bayar listrik, listrik juga Rp 1,5 juta. Ah pokoknya tekor pak ngocek duit pribadi sendiri buat nombokin-nya," keluhnya.

Dengan kondisi seperti itu, dirinya pun terpaksa memberhentikan sejumlah karyawannya. Dari 10 karyawan, kini hanya tersisa dua orang pegawai.

"Kalau sudah ramai baru ditarik lagi, dan normal kembali. Karena kita kan boro-boro mau bayar karyawan, kan bingung uangnya dari mana," tuturnya.

Sebelumnya, hal sama pun dialami oleh penginapan Ciwidey Valley. Ciwidey Valley dan Pondok Gembyang merupakan salah satu tempat yang mengibarkan bendera putih.

"Jadi selama hampir 2 bulan ini, itu sudah tidak ada pemasukan, pemasukan sudah nol. Akhirnya kan dari karyawan ada pengurangan dan jam kerja dari karyawan diatur," ucap Bagian Administrasi Ciwidey Valley Bangkit Satria, Minggu (1/8).

"Jadi saat ini, yang ada utang. Bayar supplier gak bisa, karyawan belum bisa. Jadi karyawan yang sekarang itu gajinya masih ditangguhkan, belum dibayar. Ya benar benar tidak ada cadangan aja," keluhnya.



Simak Video "Menikmati Hangatnya Berendam di Pemandian Air Panas, Bangka"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA