Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 22 Agu 2021 14:15 WIB

TRAVEL NEWS

Mengenal Sosok 'Gojali Buntung', Pejuang Pemberani dari Pandeglang

Rifat Alhamidi
detikTravel
Mengenal Sosok Gojali Buntung, Pejuang Pemberani dari Pandeglang
Tb. H. Gazali Bulkis (Rifat Alhamidi/detikcom)

Tahun 1949 pertempuran dengan Belanda pecah di Pandeglang. Melalui taktik gerilyanya, Gojali Buntung mengerahkan para pemuda dan orang tua dari wilayah Maja sampai Mandalawangi. Mereka pun ikut turun menjadi satu pasukan di bawah komandan Sub Sektor Gunung Karang demi mempertahankan Pandeglang agar tak dikuasai Belanda.

Pertempuran-pertempuran melalui taktik gerilya ini dilakukan oleh dilakukan oleh Gojali Buntung dan pasukannya terjadi di beberapa daerah di Pandeglang. Bukan hanya di Gunung Karang, Mildaniati juga menulis pertempuran itu meluas hingga ke Mandalawangi, Mengger, Maja, Cimanuk bahkan hingga ke Menes dan Labuan.

"Pada masa hidupnya, Tb. H. Gazali Bulkis merupakan sosok yang penuh semangat untuk mempertahankan daerah Pandeglang dari Belanda. Tb. H. Gazali Bulkis melakukan taktik perang gerilya bersama rakyat Pandeglang yang tergabung dalam sektor Gunung Karang. Perlawanan dilakukan dengan perang gerilya dan penghancuran jembatan, serta jalan protokol di daerah Pandeglang yang biasa dilewati oleh kendaraan Belanda," tulis Mildaniati.

Gojali Buntung dan pasukannya pun dikisahkan memiliki strategi perang yang bisa menipu para pasukan Belanda. Caranya, dengan menabuh drum sekeras-kerasnya untuk membuat manipulasi serangan seperti suara tembakan senjata.

Cara ini pun terbilang ampuh. Dalam skripsi yang ditulisnya, Mildaniati menyebut Belanda saat melakukan perjalanan melewati jembatan Mandala di Mengger, Pandeglang, berhasil terpancing lalu menyerang balik dengan berondongan peluru terhadap asal suara tipuan tersebut.

Saat amunisinya habis, pasukan yang dipimpin Gojali Buntung kemudian bergerak mengepung pasukan Belanda. Diawali serangan menggunakan granat, pasukan Gojali langsung menyerbu meski hanya menggunakan bambu runcing dan juga panah.

Pertempuran ini pun berhasil dimenangkan kubu Gojali Buntung. Berbagai persenjataan milik Belanda pun tak luput untuk dirampas termasuk dua unit mobil dan sejumlah sepeda ontel. "Peperangan ini membuat kerugian bagi Belanda. Dua mobilnya ikut dirampas dan satu mobil hancur akibat pertempuran tersebut," terangnya.

Di akhir tulisan skripsinya, Mildaniati pun menyebut kisah heroik Gojali Buntung pernah diceritakan langsung oleh ibunya yang bernama Nuraeni (56). Disebutkan, kakek dari sang ibu penulis skripsi ini pernah ikut berjuang mengusir Belanda bersama Gojali dari Pandeglang melalui taktik gerilya tersebut.

Hingga akhirnya, tug.lu yang berdiri di pertigaan Mengger, Pandeglang, Banten ini pun dibangun sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada para pejuang. Tugu ini merupakan tanda bukti bagi generasi selanjutnya bahwa pernah ada pasukan berani pemberani yang berhasil mengusir Belanda menjajah bumi pertiwi.

Sementara saat dikonfirmasi, anak Gojali Buntung, Ratu Entin Nurhaetin mengatakan bahwa ayahnya merupakan sosok yang pantang menyerah untuk mengusir Belanda dari Pandeglang. Bahkan, ayahnya mengorbankan tangganya yang harus putus di sebelah kanan saat berperang melawan Belanda.

"Tangan bapak itu buntung karena memang pas peperangan itu ada anak buahnya yang mengambil granat tapi enggak meledak pas dilempar ke Belanda. Nah pas diambil lagi, granatnya meledak dan kena bapak yang kebetulan ada disamping anak buahnya," kata Entin.

Awalnya, tangan Gojali hanya terluka hingga bagian pergelangan bagian kanannya. Namun karena membusuk, tangannya terpaksa diamputasi hampir seluruhnya untuk mengurangi luka pembusukan tersebut.

Meski berada dalam kondisi kekurangan, Entin bercerita semangat juang ayahnya seolah tak pernah padam. Dia bahkan terus bergerilya di Gunung Karang demi bisa mengusir Belanda dari wilayah Pandeglang.

"Total itu bapak gerilya di gunung sampai sembilan bulan. Karena kondisi begitu, makanya bapak lebih dikenal sama warga dengan sebutan Gojali Buntung. Otomatis, tugu yang dibangun buat penghormatan bagi para pejuang di Mengger juga ikut dikenal sama orang-orang sebagai tugu Gojali Buntung," pungkasnya.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(elk/elk)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA