Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 06 Sep 2021 17:12 WIB

TRAVEL NEWS

Tradisi Warga Kampung Goras Berburu Buaya dengan Tombak

Hari Suroto
detikTravel
Tradisi berburu buaya Kampung Goras di Fakfak
Foto: Hari Suroto
Fakfak -

Warga Kampung Goras mempertahankan tradisi berburu buaya dengan cara tradisional. Memakai kalawai atau tombak tradisional.

Kampung Goras terdapat di Teluk Berau, Distrik Mbahamdandara, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kampung Goras selama ini dikenal sebagai kampung nelayan dengan hasil tangkapan berbagai jenis ikan, kepiting, dan lobster yang melimpah.

Lobster yang merupakan sea food berharga mahal di Jakarta, bagi warga Kampung Goras, itu adalah kuliner biasa saja.

Selain berprofesi sebagai nelayan, ternyata warga Kampung Goras masih mengenal tradisi berburu buaya. Buaya ini merupakan sejenis buaya air tawar endemik Papua yang mudah dijumpai di Sungai Mitimber.

Buaya ini disebut juga buaya Nugini (Crocodylus novaeguineae). Spesies buaya ini memiliki kebiasaan bersarang di tempat yang ternaung, seperti di dasar pohon sagu dan dekat dengan kubangan air. Sekali bertelur betina mengeluarkan 27 sampai 45 telur.

Buaya Nugini terutama memakan ikan, namun juga merupakan pemakan oportunistik dan akan memangsa avertebrata dan vertebrata air, termasuk katak, ular, biawak dan burung.

Pada siang hari buaya bersembunyi di dasar pohon sagu atau membenamkan diri dalam lumpur, mereka keluar pada malam hari untuk mencari mangsa.

Buaya ditangkap pada malam hari. Buaya ditangkap menggunakan kalawai.

Bentuk kalawai sendiri hampir mirip seperti tombak, namun bentuk kalawai sendiri biasanya pegangannya terbuat dari buluh (bambu), ataupun kayu, yang lebih panjang dari tombak, ujung bambu tersebut kemudian diberi besi tajam.

Besi stainless tersebut harus lebih dari satu, dan diikat melingkari buluh tersebut. Biasanya besi kalawai terdiri dari besi yang diasah sampai menjadi tajam.

Buaya hasil tangkapan diambil dagingnya untuk dikonsumsi, sedangkan kulitnya dijual. Kulit buaya dihargai 20 ribu rupiah per centimeter. Kulit buaya ini dijual pada pengepul di Kota Fakfak.

***

Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Pelabuhan Jayakarta, Pintu Masuk Berbagai Bangsa Eropa ke Nusantara, Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT