Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 28 Sep 2021 11:10 WIB

TRAVEL NEWS

Singapura-Korsel Sudah Mau TCA dengan Indonesia

Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar, pada Pertemuan Tingkat Tinggi Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai Peacebuilding and Sustaining Peace: Security Sector Governance and Reform yang diselenggarakan secara virtual pada hari Kamis (03/12/2020).
Mahendra Siregar (Foto: dok. Kemlu)
Jakarta -

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, menyatakan bahwa Indonesia sudah menjalin travel corridor arrangement (TCA) dengan beberapa negara. Negara potensial lain akan segera menyusul.

"Catatan, ada sejumlah negara yang kita sudah punya travel corridor arrangement, yaitu Singapura, RRT, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab," kata Mahendra dalam Rakornas Parekraf 2021, yang diadakan bertepatan dengan Hari Pariwisata Dunia, Senin (27/9/2021).

TCA ini bertujuan untuk memfasilitasi kemudahan perjalanan khususnya untuk kalangan pebisnis, diplomat dan dinas. Mahendra menyebut bahwa para ekspatriatlah yang disasar oleh pemerintah Indonesia saat ini. Namun, karena kasus di beberapa negara mengalami kenaikan maka pembatasan kembali dilakukan.

"Ini yang akan kita dan terus dorong untuk bubble tourism. Karena basisnya memang untuk traveler bisnis tapi tidak akan terlalu sulit untuk kita kembangkan juga menuju bubble tourism," jelas dia.

"Sebenarnya kita sudah mulai dengan Singapura antara Batam dan Bintan. Tapi karena perkembangan yang melonjak di Singapura belakangan ini maka agak kita batasi kembali," imbuh dia.

Nantinya, Indonesia akan memperluas program gelembung perjalanan. Negara di Eropa hingga Asia akan menjadi sasaran lanjutan

"Ke depan beberapa negara yang terlihat potensial dan sudah kita jajaki untuk pengembangan bubble tourism itu adalah Belanda, Hungaria, Australia, Malaysia, Hong kong dan Arab Saudi. Ini beberapa yang ingin kita prioritaskan," terang dia.

Hingga kini beberapa negara sudah membuka perbatasan namun prosesnya sangat dinamis dan mengalami fenomena turbulensi atau penuh dengan ketidakpastian.

Lebih lanjut, Mahendra juga menjelaskan bahwa angka perjalanan internasional naik turun karena perbatasan yang masih buka tutup berdasar kondisi pandemi di tiap negara. Kuncinya adalah persiapan dan revitalisasi.

"Tiga hal yang akan kami sampaikan, pertama meningkatkan kemampuan dan kerjasama penanganan pandemi," kata dia.

"Kedua membangun kepercayaan internasional. Ketiga memfokuskan strategi penetrasi atau pemasaran pada negara dengan potensi terbesar," imbuh Mahendra.



Simak Video "Jokowi Ditanya Penanganan Dampak Perubahan Iklim di KTT APEC-ABAC"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA