Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 03 Des 2021 10:14 WIB

TRAVEL NEWS

Bos AirAsia: Ketimbang Berlebihan Hadapi Omicron, Turunkan Harga PCR Saja

Femi Diah
detikTravel
Kantor AirAsia digeledah, bos Tony Fernandes diselidiki terkait dugaan korupsi
Foto: BBC Magazine
Bangkok -

CEO AirAsia Group Tony Fernandes mendesak negara-negara Asia Tenggara untuk tidak "bereaksi berlebihan" terhadap munculnya varian Omicron dari Covid-19. Dia meminta agar biaya PCR diturunkan.

"Ini reaksi yang berlebihan. Kami belum tahu apa-apa tentang varian ini. Mari kita tunggu dan melihat dulu sebelum melakukan tindakan," kata Tony Fernandes pada pidato virtual di Forum Internasional Bangkok Post 2021 yang dijuluki "Melepas Masa Depan: Sekilas Menuju 2022 dan Setelahnya".

Bos maskapai berbiaya rendah itu mengatakan saat ini dunia lebih siap untuk menangani Omicron, Covis-19 yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, daripada jenis sebelumnya.

"Ada Merck dan Pfizer akan keluar. Kami divaksinasi. Ada booster yang tersedia. Saya merasa jauh lebih bullish, dan saya tidak malapetaka dan kesuraman," kata dia.

"Pemerintah perlu menggunakan akal sehat dan melihat apa yang dibutuhkan. Saya pikir pembatasan perjalanan dan (tindakan semacam itu) bersifat sementara, dan dunia bersifat global. Tidak peduli seberapa banyak kita menutup perbatasan, virus akan menyebar," dia menambahkan.

Saat ini, kata Tony, ada hal yang lebih mendesak untuk dilakukan pemerintah di negara-negara Asia Tenggara. Dia mengkritik harga dan frekuensi tes PCR, termasuk di Thailand, termasuk untuk pelancong yang memasuki perbatasan. Dia mengatakan harga tinggi PCR menghalangi traveler untuk mewujudkan keinginan liburan.

"Tidak ada pemerintah yang memperhatikan biaya tes PCR. Tes PCR di Asia Tenggara sangat (mahal). Tidak adil bagi penumpang untuk membayar biaya semacam itu. Tentu saja, kami ingin aman, tetapi buatlah sesederhana mungkin," kata Tony.

Dia memuji Thailand karena berencana untuk mengurangi beberapa biaya dan prosedur ini.

"Thailand berada di depan ASEAN lainnya, yang masih cukup kejam," kata dia.

"Di Malaysia, kami memiliki karantina tujuh hari. Ini adalah permulaan. Setidaknya kami membuka perbatasan, tetapi masih ada jalan panjang sebelum kami sampai ke tempat kami dulu," ujar Tony.



Simak Video "Kala Tony Fernandes Jadi Pramugara, Layani Penumpang dan Pungut Sampah"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA