Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 19 Des 2021 18:40 WIB

TRAVEL NEWS

Lestarikan Budaya, Sekelompok Pemuda di Polewali Dirikan Sekolah Menenun

Abdy Febriady
detikTravel
Sekolah Menenun di Polewali Mandar
Foto: Sekolah menenun di Polewali Mandar (Abdy Febriady/detikTravel)
Polewali Mandar -

Sekelompok Pemuda di Kabupaten Polewali Mandar ini patut diacungi jempol. Mereka mendirikan sekolah menenun demi melestarikan tradisi kerajinan tenun setempat.

Selain untuk pemberdayaan generasi masa kini, sekolah menenun didirikan demi mempertahankan kebudayaan asli daerah. Sekolah menenun ini berada di rumah salah satu warga Desa Mombi, Kecamatan Alu, Polewali Mandar.

Pelaksanaannya berlangsung setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Para peserta sekolah menenun ini merupakan remaja setempat, baik yang masih sekolah maupun sebaliknya. Guru sekolah menenun ini, adalah warga yang piawai menggeluti profesi sebagai penenun.

"Hari ini kami mengadakan sekolah menenun, kami memberikan materi kepada anak muda di sekitar Desa Mombi dan dari luar, terkait pengenalan alat dan bahan menenun, " kata pendiri sekolah menenun, Reski Amalia kepada detikTravel, Minggu (19/12/2021).

"Tujuannya, pertama untuk melestarikan budaya tenun di Sulawesi Barat. Karena kita lihat sekarang ini, generasi penenun di Sulawesi barat itu berkurang," sambungnya bersemangat.

Sekolah Menenun di Polewali MandarSekolah Menenun di Polewali Mandar Foto: Abdy Febriady/detikTravel

Menurut Reski, saat ini penenun sutra Mandar semakin sedikit serta didominasi orang tua. Ia menyebut, pentingnya regenerasi untuk mempertahankan keberadaan penenun sutra Mandar.

"Karena di lihat kondisi sekarang, kebanyakan penenun yang bertahan itu orang-orang tua, ibu-ibu. Jarang sekali kita melihat penenun yang masih muda. Jika tidak dipersiapkan regenerasi penenun sutra Mandar, kami khawatir ke depan tidak ada lagi penenun dari Mandar," tandas wanita yang juga aktif dalam kegiatan literasi ini.

Reski yang merupakan Ketua Komunitas Rumah Baca Laikata, menargetkan sekolah menenun yang didirikannya, bisa menjadi wadah pengembangan usaha ekonomi kreatif di bidang tenun.

"Karena kami mendengar dari para penenun khususnya ada di Desa Mombi itu, mereka mengeluhkan karena harga sarung tenun di pasaran itu murah. Dengan adanya sekolah menenun ini, kami berusaha untuk menjadi tempat mereka juga untuk menjual hasil tenunnya, kemudian kami produksi menjadi produk yang lebih berinovasi dan bernilai tinggi," pungkasnya.

Sekolah Menenun di Polewali MandarSekolah Menenun di Polewali Mandar Foto: Abdy Febriady/detikTravel

Salah remaja setempat, Sarifah mengaku bersyukur dengan adanya Sekolah Menenun ini. Ia berharap, kegiatan sekolah menenun ini, bisa mewujudkan mimpinya menjadi penenun yang handal seperti orang tuanya.

"Saya mau jadi penenun karena mama saya juga penenun. Saya senang menenun, saya berharap kelak bisa menjadi penenun yang handal," tandas Sarifah.

Berdasarkan pantauan detikTravel, para peserta sekolah menenun tidak hanya diperkenalkan fungsi setiap bagian alat tenun, mereka juga mempraktekkan cara menenun menggunakan alat tradisional.

Walau tampak sederhana, menenun sarung menggunakan alat tradisional ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Selain membutuhkan kesabaran, konsentrasi yang tinggi juga penting untuk menghasilkan selembar kain tenun berkualitas.



Simak Video "5 Sekolah di Polman Penuh Lumpur Akibat Banjir, Siswa Diliburkan"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA