Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 06 Jan 2022 22:10 WIB

TRAVEL NEWS

Pemda DIY Tutup Wahana Ngopi In The Sky Gunungkidul

Heri Susanto
detikTravel
Ngopi di Atas Awan Gunungkidul
Wahana Ngopi in the Sky milik Teras Kaca (Pradito Rida Pertana/detikTravel)
Gunungkidul -

Pemerintah Daerah (Pemda) DIY akhirnya menutup Wahana Ngopi In The Sky, di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul Kamis (6/1/2021). Setelah melihat sisi keamanan yaitu mobile crane yang digunakan diperuntukkan untuk mengangkut barang, bukan untuk mengangkut manusia.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji mengungkapkan, meskipun ide dan kreativitas yang dilahirkan oleh pengelola sangat bagus. Namun, safety menjadi poin utama yang harus dipatuhi. Apabila tidak memenuhi persyaratan yang dibuktikan dengan terbitnya izin, maka wisata tersebut tidak bisa dilanjutkan.

"Informasi yang kami terima, penggunaan crane itu belum ada izin, penggunaannya tidak sesuai dengan spesifikasi barang itu tentu ini juga harus ada yang menjamin keselamatannya. Nah itu ya kita hentikan dulu sampai persyaratan-persyaratan terutama sertifikasi keselamatan pengunjung itu terjamin," kata Aji melalui keterangan tertulis Kamis (6/1/2022).

Aji menjelaskan, dari hasil pemeriksaan diketahui mobile crane yang dipergunakan penyelenggara adalah alat yang disewa dari luar kota. Untuk itu semakin banyak hal yang harus dilakukan untuk pengecekan, termasuk asal-usul dan guna operasionalnya harus dilihat apakah masih berlaku atau tidak.

"Keselamatan dan kenyamanan wisatawan harus kita jamin supaya kita tetap bisa dipercaya sebagai penyelenggara destinasi wisata yang nyaman dan aman," jelas Aji.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih RaharjoKepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Rahadjo mengatakan, wahana ini memang dihentikan karena membahayakan wisatawan. Apalagi menurut Singgih, lokasi wahana yang berada di bibir pantai tentu sangat riskan.

"Penggunaan mobile crane yang tidak sebagaimana mestinya menjadi sorotan. Selain itu, posisi di tepi pantai tentu mengakibatkan tingkat korosi yang tinggi akibat angin laut yang membawa kadar garam yang tinggi. Oleh karenanya, CHSE pada pelaku wisata ini sangat penting untuk dikantongi lebih dahulu," katanya.

Ia menambahkan, selain itu SDM yang mengoperasionalkan harus bersertifikat dan punya lisensi khusus. Ini semua harus dipenuhi, kalau tidak ya sebaiknya dihentikan.

"Karena kalau terjadi kecelakaan akan menimbulkan multiplayer effect yang luar biasa. Tidak hanya di tempat itu, tapi mungkin di tempat yang lain dampaknya, bahkan seluruh DIY," katanya.

Singgih mengatakan, penyelenggara pariwisata tidak bisa hanya mengejar pengunjung dan omzet saja. Namun, yang utama tetap adalah keamanan wisatawan. Jangan sampai penyelenggara mengejar sensasi dan inovasi tapi mengesampingkan keamanan.

"Keamanan dan keselamatan tidak boleh dinomorduakan. Saat ini pun menurut Singgih, timnya sedang melakukan tinjauan langsung kembali untuk melihat lebih detail terkait semua aspek. Pun dengan persyaratan-persyaratan usaha yang harus dipenuhi dan juga standarisasinya," imbuhnya.

Selanjutnya: Alat angkut tak sesuai peruntukan

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Wabah Antraks Merebak di Gunungkidul, Puluhan Warga Diduga Tertular"
[Gambas:Video 20detik]
BERITA TERKAIT
BACA JUGA