Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 07 Jan 2022 06:12 WIB

TRAVEL NEWS

Heboh Wahana Baru Ngopi in The Sky yang Kini Ditutup Pemda

Heri Susanto
detikTravel
Seru! Tempat Ini Tawarkan Ngopi in The Sky di Atas Ketinggian 30 M
Foto: Instagram @teraskaca/TIkTok @Mesayudwitya
Gunungkidul -

Munculnya wahana baru di Teras Kaca, Ngopi in The Sky, memantik polemik. Kini, wahana itu ditutup oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Wahana Ngopi In The Sky di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul hanya berusia empat hari. Dibuka pada 2 Januari 2022, tempat ngopi di angkasa itu ditutup 6 Januari.

Alasannya utamanya, aspek keamanan. Mobile crane yang seharusnya untuk mengangkut mengangkut barang, bukan untuk mengangkut manusia.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji sejatinya memuji ide dan kreativitas yang dilahirkan oleh pengelola wahana itu. Tetapi, sayangnya faktor, yang menjadi poin utama wahana itu, justru diabaikan.

Selain itu, penggunaan crane yang menopang 'warung kopi di angkasa, belum mendapatkan izin operasi.

"Informasi yang kami terima, penggunaan crane itu belum ada izin, penggunaannya tidak sesuai dengan spesifikasi barang itu tentu ini juga harus ada yang menjamin keselamatannya," kata Aji melalui keterangan tertulis Kamis (6/1/2022).

Nah, itu ya kita hentikan dulu sampai persyaratan-persyaratan terutama sertifikasi keselamatan pengunjung itu terjamin," Aji menambahkan.

Aji menjelaskan dari hasil pemeriksaan diketahui mobile crane yang dipergunakan penyelenggara adalah alat yang disewa dari luar kota. Untuk itu, semakin banyak hal yang harus dilakukan untuk pengecekan, termasuk asal-usul dan guna operasionalnya harus dilihat apakah masih berlaku atau tidak.

"Keselamatan dan kenyamanan wisatawan harus kita jamin supaya kita tetap bisa dipercaya sebagai penyelenggara destinasi wisata yang nyaman dan aman," kata Aji.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Rahadjo mengatakan wahana itu memang dihentikan karena membahayakan wisatawan. Apalagi, menurut Singgih, lokasi wahana yang berada di bibir pantai tentu sangat riskan.

"Penggunaan mobile crane yang tidak sebagaimana mestinya menjadi sorotan. Selain itu, posisi di tepi pantai tentu mengakibatkan tingkat korosi yang tinggi akibat angin laut yang membawa kadar garam yang tinggi. Oleh karenanya, CHSE pada pelaku wisata ini sangat penting untuk dikantongi lebih dahulu," katanya.

Ia menambahkan, selain itu SDM yang mengoperasionalkan harus bersertifikat dan punya lisensi khusus. Ini semua harus dipenuhi, kalau tidak ya sebaiknya dihentikan.

"Karena kalau terjadi kecelakaan akan menimbulkan multiplier effect yang luar biasa. Tidak hanya di tempat itu, tapi mungkin di tempat yang lain dampaknya, bahkan seluruh DIY," katanya.

Singgih mengatakan penyelenggara pariwisata tidak bisa hanya mengejar pengunjung dan omzet saja. Namun, yang utama adalah keamanan wisatawan. Jangan sampai penyelenggara mengejar sensasi dan inovasi tapi mengesampingkan keamanan.

"Keamanan dan keselamatan tidak boleh dinomorduakan. Saat ini pun menurut Singgih, timnya sedang melakukan tinjauan langsung kembali untuk melihat lebih detail terkait semua aspek. Pun dengan persyaratan-persyaratan usaha yang harus dipenuhi dan juga standarisasinya," dia menambahkan.



Simak Video "Ricuh! Saat Konvoi Gerakan Pemuda Ka'bah Ditilang Polisi dan Melawan"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA