Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 25 Jan 2022 06:12 WIB

TRAVEL NEWS

Ada Sindrom Aneh yang Menyerang Wisatawan, Gejalanya Panik Saat Lihat Lukisan

Ilustrasi Kota Florence
Foto: Ilustrasi kota Florence (Thinkstock)

Masalah yang dialami banyak profesional ketika menggambarkan sindrom Stendhal sebagai gangguan kejiwaan adalah karena gejalanya sangat sulit untuk diuraikan.

"Kadang-kadang di galeri Uffizi, pengunjung tertentu mengalami serangan jantung, atau merasa sakit," kata Cristina de Loreto, seorang psikoterapis yang tinggal dan bekerja di Florence.

"Tapi itu bisa saja karena berada di ruang tertutup dengan ratusan orang lain. Bisa jadi agorafobia, bukan karena lukisan Botticelli," dia menambahkan.

Reaksi emosional terhadap seni, katanya, bukan merupakan gangguan kejiwaan, bahkan jika itu mengarah atau berkontribusi pada gejala yang membahayakan.

"Pada saat Anda mengamati sebuah karya seni, ada area otak tertentu yang diaktifkan - seperti ketika Anda melihat pria atau perempuan cantik - tetapi itu tidak cukup untuk mengatakan itu sebuah sindrom. Itu belum divalidasi, dan Anda tidak dapat menemukannya di DSM-5, panduan gangguan mental yang kita miliki," kata de Loreto.

Ekspektasi yang Tinggi

Di Loreto meyakini bahwa sesuatu yang lain mungkin berperan: bahwa harapan wisatawan terhadap Florence begitu tinggi. Sebagian didorong oleh keberadaan karya seni spektakuler di berbagai sudut kota sehingga semuanya menjadi terlalu berlebihan ketika mereka akhirnya berkunjung ke sana.

"Ini mungkin ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya, yang membuat beberapa turis merasakan sesuatu di udara Florence," katanya.

Dalam hal ini, sindrom Stendhal mungkin terkait dengan sindrom Yerusalem, yang menyebabkan pengunjung di kota suci itu menangis tersedu-sedu dalam delusi religius atau mesianik psikotik atau sindrom Paris yang menyebabkan turis mengalami kondisi kejiwaan tertentu setelah menemukan bahwa ibu kota Prancis tidak sesuai dengan harapan mereka yang terlalu tinggi.

Stendhal sendiri berujar: "semacam ekstasi akan gagasan tentang berada di Florence,".

Ekspektasi yang terpenuhi dengan sendirinya juga berperan dalam liputan media tentang dugaan kasus sindrom Stendhal. Seperti jurnalis yang meliput fenomena yang dialami Olmastroni, terpesona oleh gagasan romantis menjadi "mabuk [karena] seni", lantas mendiagnosis orang dengan sindrom tersebut.

"Di sini, di Florence, seperti di Venesia, Anda dapat menghirup seni," ujar Paolo Molino, seorang psikoterapis sambil menikmati sandwich lampredotto di Pasar Sant'Ambrogio, Florence.

"Ke mana pun Anda berbelok di pusat kota, Anda akan menemukan sesuatu yang indah. Rasanya seperti ada yang menampar wajah Anda."

Molino setuju dengan Di Loreto, bahwa sulit untuk menggambarkan sindrom Stendhal sebagai kondisi tersendiri, atau untuk memisahkan gejalanya dari gejala yang mungkin menimpa wisatawan yang dehidrasi atau kelelahan.

Halaman
1 2 3 Tampilkan Semua

(wsw/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA