Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 17 Feb 2022 08:12 WIB

TRAVEL NEWS

Bukan Negara Kuat, Ini Modal Ukraina Tak Takut Serangan Rusia

CNN Indonesia
detikTravel
Jakarta -

Di tengah ancaman invasi dari Rusia, Ukraina dinilai tak gentar sama sekali. Apa modalnya?

Para pemimpin Ukraina tetap berupaya menenangkan warga mereka dari ancaman perang itu. Mulai dari presiden hingga jajaran menteri.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta seluruh rakyat mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan secara serempak pada Rabu (16/2). Padahal, hari itu diyakini menjadi hari Rusia meluncurkan serangan ke Ukraina.

"Mereka memberitahu kami bahwa 16 Februari akan menjadi hari penyerangan. Kami akan menjadikannya hari persatuan," kata Zelensky dalam pidatonya melalui sebuah video pada Selasa (15/2).

Selain itu, Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba, mendesak warga tetap tenang dengan prediksi perang yang disebabkan oleh Rusia. Kuleba menegaskan kepada warga bahwa Ukraina merupakan negara yang kuat dan mendapat dukungan internasional.

"Hari ini (Rabu), Ukraina memiliki tentara yang kuat, dukungan internasional yang besar yang tak pernah terjadi sebelumnya, dan kepercayaan warga Ukraina pada negara ini," ujar Kuleba dalam sebuah pernyataan Twitter, dikutip dari Reuters.

"Musuh yang seharusnya takut pada kita, bukan kita takut pada mereka," dia menambahkan.

Dukungan internasional ini dapat dilihat bantuan yang diberikan beberapa negara Barat terhadap Ukraina. Di antaranya, Amerika Serikat dan Kanada, pun juga dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Sokongan bantuan militer menjadi salah satu penyebab Ukraina berani menghadapi Rusia. Ukraina juga memiliki hubungan yang cukup baik dengan NATO, dengan Kiev berani meminta bantuan ke aliansi militer tersebut.

Pusat Koordinasi Tanggap Bencana Euro-Atlantik (EADRCC) sebelumnya menyatakan telah menerima permintaan bantuan internasional yang diajukan Ukraina, Senin (15/2). EADRCC ini merupakan mekanisme tanggap darurat sipil utama NATO di wilayah Euro-Atlantik.

Dalam permintaan itu, Ukraina memberikan rincian barang-barang yang dibutuhkan. Beberapa barang tersebut antara lain mobil, truk, derek, buldoser, mesin untuk radiasi dan pengintaian bahan kimia, peralatan komunikasi, suplai medis, dan sebagainya.

Selain itu, Presiden AS, Joe Biden, juga berkomitmen penuh untuk mendukung Ukraina. Ia mengatakan apa pun yang terjadi, AS dan NATO akan melangkah setiap incinya untuk membela Ukraina.

"Amerika Serikat akan mempertahankan setiap inci wilayah NATO dengan kekuatan penuh yang dimiliki. Serangan terhadap satu negara NATO adalah serangan terhadap kita semua," kata Biden dalam pernyataan pers di Gedung Putih.

"Komitmen AS terhadap pasal 5 (di perjanjian NATO) adalah suci," Biden menambahkan.

Pasal 5 dalam kesepakatan NATO menjadi salah satu alasan utama AS membela Ukraina mati-matian jika diserbu Rusia. Pasal 5 dalam perjanjian NATO berisikan janji setia setiap negara anggota yang akan membantu anggota lainnya jika diserang musuh.

Selain itu, kedudukan AS sebagai pemilik militer terkuat NATO membuat setiap negara dalam aliansi itu secara efektif berada dalam perlindungan Negeri Paman Sam.

Komitmen AS terhadap Ukraina ini juga diikuti dengan pengiriman bantuan dari beberapa negara sekutu.

Salah satu sekutu AS, Kanada, memutuskan memberikan alat utama sistem pertahanan (alutsista) senilai CAN 7,8 juta (Rp 87 miliar) ke Ukraina.

"Mengingat kegentingan situasi dan melanjutkan diskusi dengan mitra Ukraina kami, saya telah menyetujui penyediaan peralatan dan amunisi mematikan senilai CAN 7,8 juta (Rp 87 miliar)," ucap Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau.

Inggris, salah satu sekutu AS, juga memberikan senjata anti-tank ke Ukraina untuk membantu negara itu mempertahankan diri dari Rusia, bila Moskow benar-benar meluncurkan serangan.

"Kami telah mengambil keputusan untuk mendukung Ukraina dengan sistem senjata pertahanan anti-armour ringan," kata Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace, saat rapat dengan parlemen seperti dikutip dari Reuters.

Melihat dukungan AS, NATO, dan berbagai sekutu yang kian mengalir, tak heran Ukraina berani melawan Rusia bila Moskow memutuskan melakukan invasi.

(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA