Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 15 Apr 2022 11:20 WIB

TRAVEL NEWS

Sejarah Kelapa, Buah Tropis yang Paling Disukai Bule-bule

Hari Suroto
detikTravel
Pulau di Nabire, Papua.
Foto: Kelapa di pulau Kapotar (Hari Suroto/istimewa)
Jayapura -

Kelapa merupakan buah tropis paling disukai oleh turis bule yang liburan ke Indonesia. Bagaimana sejarah buah kelapa? Mari simak penjelasannya berikut ini.

Turis bule sangat menggemari kelapa. Hal ini terlihat dari postingan Instagram mereka, saat menikmati kelapa muda di Bali.

Pohon kelapa atau Cocos nucifera adalah tanaman dari keluarga palem (Arecaceae). Kelapa merupakan salah satu tanaman terpenting di daerah tropis. Pohon kelapa mudah dijumpai di dataran rendah atau tepi pantai.

Satu pohon kelapa dapat menghasilkan 100 buah kelapa setiap tahun. Setiap buah membutuhkan satu tahun untuk matang sepenuhnya. Buah kelapa berbentuk bulat telur atau elips, dengan panjang 300 - 450 mm (12 - 18 inci) dan diameter 150 - 200 mm (6 - 8 inci).

Buah kelapa memiliki kulit berserat tebal atau sabut yang mengelilingi tempurung atau batok, yang di dalamnya terdapat daging dan air kelapa. Buah kelapa mudah mengapung dan telah tersebar luas oleh arus laut di seluruh daerah tropis.

Selain tersebar secara alami, tanaman kelapa juga disebarluaskan oleh orang-orang berbahasa Austronesia pada masa prasejarah. Orang Austronesia adalah pelaut ulung, sekitar 3000 tahun yang lalu, mereka berlayar menggunakan perahu bercadik dari Kepulauan Filipina, ke selatan menuju Sulawesi serta ke timur hingga mencapai Kaledonia baru di Pasifik Selatan.

Mereka berlayar antar pulau, sambil mendirikan pemukiman baru, yang mereka tandai dengan cara menanam pohon kelapa. Selama berlayar, buah kelapa menjadi bekal, dagingnya dapat dimakan dan airnya untuk diminum.

Sabut kelapa juga sangat bermanfaat untuk dipintal menjadi tali temali yang kuat, digunakan untuk mengikat dalam kontruksi rumah atau sebagai tali perahu atau untuk mengikat layar.

Oleh orang austronesia, pohon kelapa juga disadap untuk diambil nira-nya. Nira yang dihasilkan, kemudian diolah menjadi minuman beralkohol. Minuman ini di pesisir utara Papua disebut dengan nama saguer. Nira hasil sadapan, selain untuk dibuat minuman beralkohol, juga dimasak menjadi gula merah.

Pada masa lalu, sabut kelapa digunakan dalam pembuatan tali, tikar, keranjang, kuas, dan sapu. Batok kelapa berfungsi sebagai piring, gayung air, sendok dan gelas air minum.

Saat ini, peralatan berbahan batok kelapa sulit ditemui dan jarang digunakan, sejak adanya peralatan yang terbuat dari plastik dan aluminium. Sehingga sabut dan batok kelapa hanya berfungsi sebagai bahan bakar saja.

Selain daging yang dapat dimakan dan minuman yang diperoleh dari kelapa muda, kelapa yang dipanen juga menghasilkan kopra, daging kelapa kering yang diekstraksi, menghasilkan minyak goreng.

Saat ini Philipina dan Indonesia menjadi penghasil kopra utama di dunia. Negara-negara di Pasifik Selatan, menjadikan kopra sebagai produk ekspor penting. Dagingnya juga bisa diparut dan dicampur dengan air untuk dibuat santan, atau sebagai bahan dalam pembuatan makanan tradisional.

---

Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto, peneliti arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan telah diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Melawan Lara, Penyadap Nira"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA