Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 27 Mei 2022 07:48 WIB

TRAVEL NEWS

Dugaan Peneliti, Ini Penyebab Banjir Rob di Semarang

bonauli
detikTravel
Upaya penambalan tanggul jebol di area kawasan industri Lamicitra Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Kamis (26/5/2022).
Banjir di Semarang (dok. Pelindo III)
Jakarta -

Semarang mengalami banjir rob parah beberapa hari lalu. Peneliti pun buka suara terkait dengan penyebab banjir di sana.

Pada 23 dan 24 Mei 2022, viral pemberitaan tentang rob yang menggenangi kawasan Pelabuhan Tanjung Mas hingga perbatasan dengan pesisir Sayung, Demak dan juga di pesisir Pekalongan.

Tinggi genangan air di kawasan industri di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dilaporkan mencapai pinggang orang dewasa atau sekitar 110 sentimeter.

Widodo S. Pranowo, peneliti Ahli Utama Bidang Oseanografi Terapan, pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional memberikan pendapatnya melalu beberapa pengecekan data.

"Berdasarkan kompilasi data observasi dari berbagai sumber, maka penampakan tanggul yang jebol, kemungkinan besar terjadi pada koordinat 6°56'39;47.51"S dan 110°25'9;59.16"E, atau kurang lebih di sekitar PT. Pinnacle Apparels Semarang yang bagian belakangnya berbatasan langsung dengan tanggul," ujarnya.

Mari mulai dari Laut Jawa yang memiliki karakter yang cukup unik. Laut Jawa sangat dipengaruhi oleh angin monsun. Bulan Mei adalah masa akhir dari peralihan dari angin monsun barat (bergerak dari barat menuju ke timur) menjadi angin monsun timur (bergerak dari timur menuju ke barat).

"Dalam Citra Satelit Himawari pada 22 Mei 2022 menampilkan awan bergelayut hampir menutupi di sepanjang pesisir utara Jawa, tampak angin berhembus dari timur menuju ke barat. Begotu juga dengan Citra Satelit Himawari pada 23 Mei 2022," jelasnya.

Angin tampak masih berhembus dari timur menuju ke barat. Kondisi hembusan angin tersebut berpeluang menyeret elevasi muka laut di Laut Jawa di bagian timur yang diseret menuju ke barat.

"Sementara itu, ketika mengamati kondisi elevasi muka laut yang murni hanya dibangkitkan oleh gaya pasang surut akibat gaya tarik rembulan dan matahari, maka elevasi muka laut tertinggi sebenarnya terjadi pada tanggal 19 Mei 2022 pada pagi hari antara pukul 09.00 hingga 10.00 WIB dengan ketinggian sekitar 1 meter," kata Anggota Advisory Board of Korea - Indonesia Marine Technology Cooperation Research center (MTCRC) tersebut.

Sedangkan pada tanggal 22 Mei 2022, tambah Widodo, elevasi muka laut tertinggi hanyalah sekitar 0,88 meter dan terjadi pada siang tengah hari. Ini artinya elevasi muka air laut 12 sentimeter lebih rendah daripada kondisi pada tanggal 19 Mei 2022.

Pada tanggal 23 Mei 2022 mendekati siang tengah hari, elevasi muka laut tingginya sekitar 0,76 meter, kemudian pada tanggal 24 Mei 2022 mendekati siang tengah hari, elevasi muka laut tingginya sekitar 0,67 meter.

"Justru yang menarik adalah ketika dilakukan analisis secara kopling, yakni dugaan adanya akumulasi atau penumpukan elevasi muka laut akibat seretan angin dan gaya pasang surut, maka elevasi paling tinggi justru terjadi sekitar tanggal 23 Mei 2022, baik di stasiun pengamatan di Semarang dan Pekalongan maupun di Rembang," dia menjelaskan.

Gradien elevasi muka laut pada tanggal 23 Mei 2022 tersebutlah yang diduga memiliki peluang menciptakan debit aliran yang banyak dan kuat dari arah laut menuju ke darat.

"Debit aliran massa air ini, ada yang overtopping atau melimpas/mengalir membanjiri darat melewati bagian atas tanggul, dan ada juga yang alirannya menjebol tanggul seperti yang terjadi di belakang PT. Pinnacle Apparels
Semarang," ujar dia.

Namun, Widodo mengatakan bahwa kondisi cuaca ekstrim ini masih sekedar dugaan awal saja sebagai penyebab terjadinya rob di Semarang dan sekitarnya.

"Diperlukan studi yang lebih komprehensif menggunakan data yang lebih panjang waktu akuisinya, ditambah dengan data dinamika muka tanah, dan mempertimbangkan adanya pengaruh dari telekoneksi atau pengaruh jarak jauh dari interaksi antara laut dan atmosfer yang terjadi di Samudera Hindia, termasuk pengaruh dari monsun Asia dan Australia terhadap kondisi di Laut Jawa dan sekitarnya," kata dia.



Simak Video "Lagi! Banjir Rob Rendam Pelabuhan Semarang, Tinggi Air Capai 1 Meter"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA