Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 10 Jun 2022 09:08 WIB

TRAVEL NEWS

Abrasi di Sulawesi Tengah Makin Parah, Bersih Pantai-Tanam Bakau Digalakkan

Tim detikcom
detikTravel
Bersih Pantai di Donggala
Foto: Aksi bersih pantai dan tanam bakau di Donggala (dok. Save The Children)
Donggala -

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut abrasi pantai di Sulawesi Tengah makin parah. Aksi bersih pantai dan tanam bakau pun digalakkan.

Sebaran abrasi di Sulteng ada sebanyak 34 titik. Angka ini merupakan terbanyak ketiga di Pulau Sulawesi setelah Sulawesi Selatan (57 titik) dan Sulawesi Tenggara (74 titik).

Abrasi pantai berdampak pada penyusutan garis pantai sehingga daratan utama semakin berkurang, berkurangnya sumber daya ikan dan plasma nutfah, serta merusak hutan bakau di sepanjang pesisir pantai sehingga memperbesar risiko bencana.

"Krisis iklim dirasakan dampaknya secara nyata oleh anak-anak saat ini, terutama pada mereka yang tinggal di daerah rawan bencana dan pernah mengalami histori kejadian bencana skala besar seperti misalnya di Kabupaten Donggala," jelas Chief of Advocacy, Campaign, Communication, and Media Save the Children Indonesia Troy Pantouw dalam keterangannya, Jumat (10/6/2022).

Troy menegaskan, tanpa adanya aksi nyata yang dilakukan segera, yang dimulai dari lingkungan keluarga serta anak-anak, maka anak-anak akan terus menanggung beban yang tidak proporsional karena situasi yang mereka alami saat ini.

Menyoroti hal tersebut, sekelompok anak di Donggala yang tergabung dalam Child Campaigner Save the Children Indonesia, menginisiasi Aksi Generasi Iklim dengan melakukan aksi bersih pantai, menanam bakau, dan melakukan pemagaran hutan bakau di Pantai Mapaga, Labean, Kabupaten Donggala.

Salah satu penggagas aksi adalah Rahmi (17 tahun) yang juga merupakan bagian dari Forum Anak Labean sekaligus penyintas banjir rob, serta tsunami dan gempa yang melanda Sulawesi Tengah pada 2018 lalu.

"Awalnya (sebelum bencana) banjir rob hanya di atas mata kaki. Setelah bencana, bisa sampai 60-an centimeter atau selutut orang dewasa. Kalau banjir, semua barang yang tidak bisa kena air diangkat atau dipindahkan. Akses untuk belajar susah karena akses tertutup dan harus menyeberang ke sekolah, sementara untuk menyeberang pakai perahu butuh uang yang cukup besar. Bahkan kadang tidak terpikir sekolah, karena harus mengungsikan barang-barang agar tidak terkena air," kataRahmi.



Satu-satunya mata pencaharian ayah Rahmi sebagai nelayan juga terpengaruh karena sulit mendapat ikan. Akibatnya, tak ada ikan yang bisa dijual atau dimakan. Tak jarang pula, Rahmi sekeluarga menjadi gatal-gatal imbas dari banjir yang masuk ke rumah.

"Lima tahun lalu, adik sakit diare. Orang tua panik, uang tidak ada, banjir rob sedang naik. Akhirnya tanya-tanya tetangga saja obatnya apa, dicarikan obatnya dan dikasih minum (ke adik)," cerita Rahmi.

Rahmi adalah satu dari sekian banyak anak dan keluarga yang terdampak banjir rob di Sulawesi Tengah. Ia harus meninggalkan rumah yang 20 tahun ditempati keluarganya dan pindah ke hunian tetap (huntap) agar bisa kembali menjalani hidup normal.

"Saat ini yang bisa kami lakukan sebagai anak-anak adalah membersihkan pantai dan menanam pohon, juga memagari pohon bakau supaya tidak dimakan kambing yang datang. Tetapi kami berharap pemerintah dapat melakukan hal lain misalnya bangun tanggul rob supaya rumah orang-orang tidak terendam banjir lagi," tutup Rahmi.



Simak Video "Penanganan Abrasi di Pantai Pebuahan Bali Diusulkan Rp 100 M"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA