Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 10 Jun 2022 18:03 WIB

TRAVEL NEWS

Arkeolog: Borobudur Tak Bisa Disamakan dengan Angkor Wat, Ini Bedanya

bonauli
detikTravel
Makanan di relief Candi Borobudur
Candi Borobudur (iStock)
Jakarta -

Gaduh soal Candi Borobudur masih terus berlanjut. Banyak kalangan yang membandingkan situs UNESCO ini dengan Angkor Wat Kamboja yang juga berupa candi.

Semua bermula ketika Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan tarif bagi pengunjung yang ingin naik ke area Candi Borobudur. Tarifnya cukup fantastis, Rp 750 ribu per orang.

Alasannya untuk membatasi pengunjung yang naik ke sana, sehingga menjaga keutuhan situs. Sementara tiket masuk hingga pelataran candi masih sama, Rp 50 ribu saja. Keputusan ini jelas menuai pro dan kontra. Sampai akhirnya, kebijakan tersebut akan dikaji lagi sampai tahun depan.

Melihat hal ini, banyak orang yang membandingkan Candi Borobudur dengan Angkor Wat. Situs UNESCO yang dibangun pada abad ke-12 tersebut juga sama-sama candi.

Sebelum membandingkan, mari kita pahami dulu nilai Candi Borobudur sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.

"Candi Borobudur harus dilindungi, sebagai warisan dunia UNESCO. Sebagai warisan dunia tentu saja ada aturan dari UNESCO, yang boleh dan tidak boleh dilakukan, kalau menyalahi aturan UNESCO, status sebagai warisan dunia UNESCO bisa dicabut," ujar Peneliti Arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hari Suroto pada detikTravel.

Contohnya adalah pesawat yang tidak boleh melintas di atas Candi. Zona udara di atas candi tidak boleh menjadi zona terbang. Tak hanya itu, tower telekomunikasi juga tidak boleh ada di area sekitar situs Candi Borobudur.

"Kawasan Angkor Wat sepintas seperti Candi Sewu, jadi wisatawan hanya berjalan di halaman candi saja. Tidak berjalan ke atas dan menginjak batu candi seperti Candi Borobudur," jelasnya.

Ruang candi yang terbatas menjadi pembeda antara Candi Borobudur dan Angkor Wat. Secara pengelolaan, semua sudah sama.

"Pengelolaan dalam hal konservasi sudah tepat, sudah dilakukan oleh Balai Konservasi Borobudur, sesuai aturan dan SOP dari UNESCO. Sedangkan untuk pariwisata dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (persero)," ungkapnya.

Yang berbeda hanya tiket saja. Kalau warga Kamboja bisa gratis masuk Angkor Wat, sedangkan turis harus bayar USD 59 atau sekitar Rp800 ribuan.

Pembatasan Pengunjung Borobudur Sudah Bagus

Hari menilai bahwa pembatasan jumlah pengunjung itu sudah bagus. Karena dapat mengurangi gesekan alas kaki pengunjung ke lantai candi.

"Candi Borobudur itu kan kontruksinya bagaikan puzzle, batu yang disusun, tidak pakai perekat semen, jadi dengan beban yang berat di atas candi, misalkan terlalu banyak wisatawan yang naik, ya dikhawatirkan batu akan bergeser," ujarnya.

Lebih lanjut, Hari meminta Pemerintah untuk mencari inovasi lain untuk membatasi jumlah pengunjung yang naik. Inovasi dapat dilakukan dengan teknologi digital, misalnya perjalanan virtual. Traveler bisa berkunjung dari rumah, dengan angle 360 derajat.

"Atau bisa ditampilkan di Metaverse. Tapi ini tidak instan, butuh waktu, SDM, teknologi untuk mengerjakannya," ungkapnya.

Untuk sementara waktu, pembatasan di Borobudur akan dilakukan dengan jumlah 1.200 per hari dengan jumlah 120 wisatawan per jam. Tiketnya masih sama, ya!



Simak Video "Sandiaga Uno Harap Penataan Candi Borobudur Bisa Tarik 20 Juta Wisatawan"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA