Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 27 Jun 2022 17:15 WIB

TRAVEL NEWS

Komodo yang Sering Berinteraksi dengan Turis Lebih Jinak dan Gemuk

Wisatawan dan ranger memperhatikan Komodo di Pulau Rinca.
Wisatawan dan ranger memperhatikan komodo di Pulau Rinca. Foto diambil beberapa tahun lalu (Foto: Dadan Kuswaraharja)
Jakarta -

Keberadaan turis atau kunjungan memang mengubah perilaku dari komodo. Tak hanya itu, penghuni spesial Taman Nasional Komodo ini juga mengalami anomali berat badan.

Hal itu dijelaskan oleh Kepala Balai TN Komodo, Lukita Awang, dalam konferensi pers di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin (27/6/2022). Mula-mula, ia menjelaskan tentang keanekaragaman hayati di TN Komodo hingga mitra pengamanan kawasan bersama dengan TNI-Polri.

"Peran wisatawan meningkat terus dari 2010 sampai 2019. Di tahun 2016 itu kurang lebih 100 ribu kunjungan," kata Lukita.

"Pada saat itu karena tren yang meningkat kita melakukan penelitian terkait bagaimana perilaku komodo terhadap wisatawan," jelas dia.

Kepala Balai TN Komodo, Lukita AwangKepala Balai TN Komodo, Lukita Awang (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Memang benar, setelah dilakukan penelitian, komodo yang selalu berinteraksi dengan manusia menjadi lebih jinak. Sementara yang jarang melihat manusia akan lebih waspada dan menjauh bila ada manusia di dekatnya.

"Nah ternyata, komodo di tempat wisata itu perilakunya berubah. Kewaspadaannya berkurang," jelas Lukita.

"Dia cenderung dekat dengan manusia. Sementara di tempat yang non wisata, dia lihat manusia dia akan menjauh," imbuh dia.

Tak hanya itu, berat badan komodo yang selalu dekat dengan manusia juga lebih berat dibanding dengan mereka yang tinggal jauh dari manusia. Lalu, untuk ukuran penelitian lain masih tetap sama.

"Kemudian massa tubuhnya juga berbeda. Di tempat wisata yang di Loh Liang Komodo, komodo terberat itu 100 kilogram. Sementara yang di tempat yang non wisata yang paling gede itu 79-80 kilogram," urai dia.

"Ada perubahan itu di perbedaaannya. Sementara rasio seks dan kepadatannya tidak berbeda," kata dia.

"Nah dari sini kita sejak tahun 2017, kita menghentikan kegiatan. Kita perlu kajian daya dukung dan daya tampung tadi. Jangan sampai ke depan perilaku komodo akan berdampak yang kita tidak tahu saat ini," pungkas Lukita.



Simak Video "Tarif Rp 3,75 Juta Taman Nasional Komodo untuk Konservasi"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA