Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Selasa, 09 Agu 2022 05:01 WIB

TRAVEL NEWS

Edan! Radikalisme Nyaru dalam Pariwisata Garut, Surganya Rp 25 Ribu

Garut -

Paham radikalisme menyaru dengan pariwisata pantai di Garut selatan. Dari kawasan ini juga timbul ungkapan Rp 25 ribu bisa masuk surga.

Islam radikal dan intoleran memilik sejarah yang panjang di Garut. Tim detikcom menelusurinya selama beberapa hari dan memperoleh fakta mengejutkan bahwa aktivitas itu saling berkaitan satu sama lain, dari mistis Gunung Guntur sampai pemangkas rambut Asgar-nya.

Menurut salah satu petugas, Islam garis keras itu menyaru atau berkamuflase saat berkembang di area wisata. Ya, kawasan Garut selatan memiliki sejumlah pantai yang cantik.

"Karena aktivitas mereka itu akan minim dideteksi oleh aparat, Densus 88, dan pemerintah. Itu tadi mereka dapat berkamuflase dengan mudah bila tempat itu dekat dan fokus pada wisata," kata Nurul Barkah, penyuluh agama di KUA Kecamatan Cibalong, Garut di minggu pertama Agustus 2022.

"Karena mata akan tertuju pada aktivitas wisata di daerah di mana mereka beroperasi," dia menambahkan.

Dalam perjalanan selama hampir seminggu di Garut, kami menyambangi kawasan selatan, terutama di Cibalong. Di sana ada warga yang terpapar Islam garis keras yang mengarah pada hal-hal berbau makar.

Garut dan Islam radikalGarut dan Islam radikal (Foto: Pradita Utama/detikcom)

"Warga yang terpapar aliran radikalisme di sini tidak separah dengan yang ada di Garut lain. Alhamdulillah bisa ditangani dan kemarin ada 69 orang yang deklarasi kembali ke pangkuan NKRI," kata Nurul.

"Warga yang mendeklarasikan diri itu berasa dari Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet dan Peundeuy. Totalnya ada 200 dari beberapa kecamatan," dia menambahkan.

Menurut dia, tim Densus 88 berkolaborasi dengan Kemenag untuk mengatasi aliran radikalisme ini sampai ke akar rumput.

Lalu apa alasan warga sampai terhasut dan masuk aliran radikalisme itu? Kata Nurul, mereka yang terhasut tidak mengetahui kelompok yang dimasuki adalah terlarang kegiatannya.

"Pertama karena ketidaktahuan mereka. Kedua, pengen mencoba aja. Dan, yang ketiga ada unsur politiknya, seperti meminta dukungan suara dari kalangan mereka," kata dia.

Lalu siapa pelakunya? Nurul menyebut bahwa pelaku penyebaran Islam radikal itu berasal dari tokoh agama sampai masyarakat menengah atas.

"Banyak dari tokoh pemuka agama, masyarakat menengah ke atas ada, menengah ke bawah juga ada. Jadi tidak hanya karena faktor kesulitan ekonomi dia mengikuti aliran radikal ini," dia menjelaskan.

Garut dan Islam radikalNurul Barkah, penyuluh agama di KUA Kecamatan Cibalong, Garut (Foto: Pradita Utama/detikcom)

Jadi, mereka yang masuk aliran sesat itu cenderung tidak tahu apa yang dilakukan. Karena di Cibalong itu mayoritas Islamnya kuat dan polos.

"Yang menyebabkan aliran tersebut diterima dari bahasanya sehingga mereka tertarik dan simpati, tapi tidak tahu akan dibawa ke ranah makar ke pemerintahan, atau menganggap thogut ke Pancasila atau pemerintah, betul-betul tidak tahu lah," terang dia.

"Mereka pintar berkamuflase di masyarakat NU sampai Muhammadiyah. Terus dengan bahasa gaya agama bisa menarik, mereka diajak dari door to door sampai ke pengajian," ujar Nurul.

Namun begitu, masyrakat Garut selatan ini masih terbilang dini disebut sebagai teroris. Karena, mereka sama sekali tidak melakukannya dan hanya bayar iuran saja.

"Alhamdulillah tidak pernah. Cuma ikut pengajian aja, bayar infak dan lain-lain. Tapi ada juga yang ikut, nggak sampai bayar infak terus beres keluar lagi mereka," kata dia.

Soal bayar infak Rp 25 ribu masuk surga, Nurul menampik keberadaannya di wilayah yang diemongnya. Namun, ada satu pelaku yang mengiyakannya.

"Isu itu adanya di Kecamatan Cikelet, kalau di sini nggak ada. Itu dekat dengan Pameungpeuk. Alhamdulillah di sini nggak ada isu itu tapi ada infak-infaknya," kata dia.

"Infaknya itu tergantung ekonomi dari yang terpapar. Kalau kaya ya lumayan. Kalau yang miskin ya cuma Rp 10 ribu dan itu masuknya ke pimpinan," dia menjelaskan.

"Pimpinan mereka itu saya tidak bisa menyebutkan namanya, tapi ada yang membawa aliran ini dan yang mengumpulkan infak itu," kata dia.

(msl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA