Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Selasa, 09 Agu 2022 23:10 WIB

TRAVEL NEWS

Larangan Suling di Gunung Guntur Bukan Mistis, tapi Bikinan Kartosoewirjo

Garut dan Islam radikal
Gunung Guntur (Foto: Pradita Utama/detikcom)
Garut -

Pemberontakan DI/TII pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di masa awal kemerdekaan Indonesia menyisakan mitos hingga kini. Penduduk kaki Gunung Guntur dilarang membunyikan suling karena akan mengundang makhluk halus berupa macan.

Namun, kata sejarawan Garut Warjita, larangan membunyikan suling lebih ke arah terusiknya pemberontak DI/TII. Karena, mereka bersembunyi di kawasan pegunungan yang mengelilingi Garut dan bisa terungkap persembunyiannya bila ada suatu kegaduhan.

"Memang mitos itu ada, main suling dan diculik makhluk halus, tapi kalau kita merunut ke belakang itu ada peristiwa sejarah di situ ketika ramai berkecamuknya DI/TII," kata Warjita pada tim detikcom di awal bulan Agustus 2022.

"DI/TII kan di gunung-gunung dan kawasan ini sangat menguntungkan mereka. Sehingga mereka memanfaatkan Karacak, Sanakeling, sampai Guntur," imbuh dia.

Warjita lalu menyinggung tentang adanya program pagar betis untuk memberantas kelompok pemberontak DI/TII. Ia menyimpulkan bahwa aktivitas keramaian termasuk membunyikan suling sangatlah berkaitan dengan hal itu.

Sejarawan Garut WarjitaSejarawan Garut, Warjita (Foto: Pradita Utama/detikcom)

"Di masa itu ada aksi pagar betis di sana. Masa itu dari Kodam Siliwangi ingin menangkap gerombolan DI/TII itu secara pagar betis," kata dia.

"Pagar betis itu sendiri adalah masyarakat dilibatkan, difasilitasi ke gunung untuk menyisir para pemberontak itu," imbuh dia.

"Nah, saya kira, munculnya mitos itu berkaitan dengan kisah itu. Jadi bagaimana masyarakat jangan sampai, kalau di Sunda ngadaruwahken atau gaduh sehingga membuat mereka ketahuan," terang Warjita.

Jadi, kata Warjita, masyarakat di kaki Gunung Guntur diimbau jangan sampai membuat bunyi-bunyian, suling atau yang lain sehingga membuat gerombolan DI/TII terungkap persembunyiannya.

"Mereka sangat aktif di Gunung Guntur dan sekitarnya, melebar sampai Leles. Paling sering DI/TII di situ meski di Gunung Karacak di sini juga ada," kata dia.

"Kalau di Garut lebih sering di Gunung Guntur, karena ditangkapnya di balik sana. Karena di baliknya sudah Bandung," imbuh dia.



Simak Video "PCNU Ungkap Paham NII Sudah Masuk ke 41 Kecamatan di Garut"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA