Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 24 Sep 2022 19:15 WIB

TRAVEL NEWS

Cerita Polisi Hutan, 'Rela' Digigit Monyet Sampai Ular

bonauli
detikTravel
Demo rescue ular sanca liar oleh polisi hutan
Demo animal rescue ular liar (bonauli/detikcom)
Jakarta -

Polisi hutan adalah satu dari sekian banyak pekerjaan dengan risiko tinggi. Mereka harus rela bertaruh nyawa saat melakukan penyelamatan.

Penangan satwa jadi bagian dari tugas polisi hutan. Suyatno, seorang Polisi Hutan Ahli Muda, telah berkecimpung di dunia penanganan satwa liar mulai dari tahun 1998. Selama karirnya, Suyatno, sudah pernah menangani berbagai hewan liar.

Jabatan polisi hutan baru didapatnya tiga tahun belakangan ini. Sebelum jadi polisi hutan, dirinya harus terlebih dulu mendapatkan pelatihan selama 3 bulan.

"Anak buah saya pernah digigit monyet sampai harus mendapatkan 32 jahitan, saya juga pernah tapi tidak sebanyak itu," katanya memperlihatkan luka-luka di tangannya.

Suyatno, Polisi hutanBekas luka gigitan monyet di tangan Suyatno, Polisi hutan Foto: (Rengga Sancaya/detikFoto)

Gara-gara itu, dirinya harus disuntik anti-rabbies sampai 5 kali. Anti-rabbies harus diberikan setiap minggu sekali. Tak hanya anti-rabbies, suntikan anti-TBC juga harus disertakan.

"Monyet itu bisa menulakan TBC," ujar dia saat berada di Festival Flona 2022 di Taman Lapangan Banteng, Jakpus.

Kejadian ini sudah bertahun-tahun berlalu, namun ingatan akan gigitan monyet itu masih terus membekas. Saat itu satu ampul anti-rabies dibandrol dengan harga Rp 300 ribuan. Padahal dirinya harus mendapatkan dua ampul sekaligus dalam satu suntikan.

"Dulu enggak semua rumah sakit punya anti-rabbies. Mungkin sekarang harganya juga sudah beda," kata ida

Tak cuma monyet, dirinya juga pernah digigit ular. Saat detikTravel mewawancara Suyatno pun, ada insiden yang membuatnya digigit ular phyton.

Kala itu Suyatno menjelaskan pada saya bahwa antara ular liar dan peliharaan memiliki perbedaan sifat. Ular yang liar biasanya agresif dan siap menyerang.

"Ini ada satu ular sanca atau kita sebut phyton yang baru direscue dari rumah warga," dia mengisahkan sambil membuka sebuah kotak besar.

Demo rescue ular sanca liar oleh polisi hutanDemo rescue ular sanca liar oleh polisi hutan Foto: (bonauli/detikcom)

Begitu dibuka, ular phyton sepanjang 8 meter terlihat mojok di ujung kotak. Seisi kotaknya penuh tanah dan lembab.

"Tuh lihat, matanya agak buram. Dia sebentar lagi ganti kulit," kata Suyatno sambil memandikan ular dengan air bersih.

Suyatno meminta saya untuk ambil posisi aman. Bersama seorang staf dari Indra Cobra Show yang jadi binaan polisi hutan, mereka bersiap untuk memindahkan ular itu ke karung.

Demo rescue ular sanca liar oleh polisi hutanDemo rescue ular sanca liar oleh polisi hutan Foto: (bonauli/detikcom)

Mereka berdua membungkuk dengan pose kuda-kuda. Suyatno memegang kepala ular, yang lain mencari ekornya.

Seperti yang selalu diinformasikan olehnya, 'menaklukkan' ular bukan main-main. Ular sanca memang tak memiliki bisa namun lilitannya mematikan. Dalam hitungan menit, ular ini sudah berhasil melilitkan badannya ke tangan Suyatno.

Demo rescue ular sanca liar oleh polisi hutanDemo rescue ular sanca liar oleh polisi hutan Foto: (bonauli/detikcom)

Pengunjung Taman Lapangan Banteng yang berhenti sejenak melihat kejadian ini. Namun, Suyatno tetap tenang. Si ular tak mau kalah dan berontak hingga membuat giginya menancap ke tubuh ular itu sendiri.

Mencoba membuka belitan, Suyatno terus menarik kepala ular. Karung sudah disiapkan, namun begitu hendak dimasukkan, si ular menggigit tanganSuyatno.Suyatno melepaskan ular.

Demo rescue ular sanca liar oleh polisi hutanDemo rescue ular sanca liar oleh polisi hutan Foto: (bonauli/detikcom)

Untungnya, ekor ular itu masih dipegang oleh rekan Suyatno. Sang ular mencoba melarikan diri ke tengah jalan. Ini seakan jadi tontonan menarik bagi pengunjung.

Tak berapa lama Suyatno kembali dan berhasil memasukkan ular ke karung. Darah di tangannya belum juga kering dan masih terasa perih.

"Gigi ular sanca itu seperti pancingan, mengait sampai dalam," dia menjelaskan.

Demo rescue ular sanca liar oleh polisi hutanDemo rescue ular sanca liar oleh polisi hutan Foto: (bonauli/detikcom)

Dewi fortuna masih berpihak padanya, ular bisa selamatkan tanpa perlu di bunuh.

"Kalau lihat ular jangan dibunuh, hubungi saja 112," ujar dia.



Simak Video "Ngeri! Ular Sanca 3 Meter Ngumpet di Plafon Rumah Warga di Depok"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA