Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Selasa, 18 Okt 2022 11:09 WIB

TRAVEL NEWS

Kisah Rumah Si Pitung dan Perjuangan Melawan Banjir Rob Marunda

Putu Intan
detikTravel
Jakarta -

Berada di kawasan Marunda, Rumah Si Pitung tak luput dari terjangan banjir rob sampai ancaman tenggelam. Di tengah situasi itu, cagar budaya ini mencoba untuk bertahan.

Rumah Si Pitung sejatinya merupakan rumah milik saudagar asal Sulawesi Selatan bernama Haji Saifuddin. Menurut penuturan pemandu Rumah Si Pitung, Tama, rumah ini sudah berdiri sejak tahun 1880-an.

Rumah bergaya Bugis itu dikenal sebagai rumah singgah tokoh legendaris Betawi, Si Pitung. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, membeli rumah tersebut untuk dijadikan cagar budaya.

Selain cagar budaya, Rumah Si Pitung juga menjadi destinasi pariwisata yang diunggulkan Marunda. Rumah ini menyimpan koleksi perabotan rumah tempo dulu hingga cerita Si Pitung. Tak hanya itu, Rumah Si Pitung juga menjadi ruang publik untuk melakukan kegiatan pelestarian seni budaya Betawi.

Sudah berusia ratusan tahun, tak dapat dipungkiri bangunan rumah mengalami sejumlah kerusakan. detikTravel sempat menengok langsung kondisi rumah tersebut beberapa waktu lalu. Tampak atap yang bocor hingga bagian bangunan yang keropos.

Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Mis Ari menjelaskan, Rumah Si Pitung memang sudah 2,5 tahun tidak dilakukan pemeliharaan karena dana dialokasikan untuk penanganan COVID-19. Saat ini, pemeliharaan baru kembali dilakukan dan rencananya tuntas 11 Desember mendatang.

Rumah Si Pitung Ditutup untuk PemeliharaanRumah Si Pitung ditutup untuk pemeliharaan. Foto: Pradita Utama/detikcom

Faktor alam dinilai menjadi alasan utama yang membuat bangunan ini cepat rusak. Salah satunya soal terjangan banjir rob karena posisi rumah itu memang langsung berhadapan dengan laut. Kondisi ini kemudian memunculkan isu bahwa Rumah Si Pitung terancam tenggelam.

"Kalau isu tenggelam, bukan hanya di sini tapi bahkan Jakarta ya. Itu (tenggelam) tidak bisa dihindari karena penurunan muka tanah setiap tahun. Jadi tidak bisa dihindari. Namun yang bisa kita lakukan adalah pencegahan-pencegahan," kata Mis Ari.

Mis Ari menjelaskan, selama ini pengelola melakukan berbagai upaya supaya Rumah Si Pitung tetap eksis. Mulai dari pemeliharaan bangunan hingga membangun resapan agar air laut yang masuk cepat surut.

"Kami koordinasi dengan dinas terkait untuk meninjau, mengatasi rob yang ada di lingkungan kami. Pernah datang tim dari dinas terkait membuat beberapa titik resapan," ujarnya.

Selain itu, ia juga meminta pemangku wilayah agar ketika memperbaiki jalan tidak lebih tinggi dari kondisi tanah atau area di dalam Rumah Si Pitung. Tujuannya agar banjir tidak mengalir ke sana.

Rumah Si Pitung Ditutup untuk PemeliharaanRumah Si Pitung Ditutup untuk Pemeliharaan. Foto: Pradita Utama/detikcom

Mis Ari tak menampik terjangan banjir rob adalah risiko yang harus dihadapi Rumah Si Pitung. Sebelumnya rumah panggung itu juga tidak setinggi sekarang. Upaya meninggikan bangunan juga dilakukan demi terhindar dari banjir rob.

"Mau tidak mau memang tidak bisa terhindar dari rob. Tapi paling tidak durasi robnya tidak terlalu lama maka sudah bisa surut," katanya.

Pemandu Rumah Si Pitung, Tama menceritakan Rumah Si Pitung pernah dilanda banjir terparah pada 2021. Kala itu air masuk sampai ke dalam kawasan Rumah Si Pitung. Saat itu, warga setempat juga heran air laut bisa sampai masuk ke tengah kawasan itu.

"Dibilang parah karena biasanya air masuk tidak sampai ke dalam kawasan. Tapi tinggi airnya hanya sebetis saja, tidak sampai sepinggang," kata dia.

Tama menjelaskan, masuknya air laut ke kawasan Rumah Si Pitung memang bukan hal baru. Akan tetapi datangnya air laut itu tak dapat diprediksi. "Tergantung pasang air laut. Kalau pagi-pagi tiba-tiba naik tapi sebentar. Biasanya malam juga suka naik tapi cepat surut," ujarnya.

(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA