Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 07 Nov 2022 18:17 WIB

TRAVEL NEWS

Wow! Dadak Merak 40 Kg Diangkat dengan Gigi, Reog Pakai Ilmu Hitam?

Putu Intan
detikTravel
Jakarta -

Pemain Reog Ponorogo mengangkat dadak merak menggunakan gigi. Mereka mampu karena latihan, bukan pakai ilmu hitam.

Pemain yang mengangkat dadak merak dalam pagelaran Reog Ponorogo disebut sebagai pembarong. Setiap pembarong bertugas memakai kepala harimau yang disebut barongan, dengan bagian atasnya berhiaskan bulu-bulu merak.

Dadak merak yang diangkat ini tingginya dapat mencapai 2 meter. Beratnya sekitar 40 kilogram. Namun untuk dadak merak ukuran jumbo, beratnya juga dapat mencapai 100 kilogram.

Dengan beban seberat itu, pembarong harus mampu mengangkat dan menggerak-gerakkan dadak merak sesuai iringan gamelan. Gerakannya juga beragam, mulai dari berputar, berguling, menjatuhkan diri, hingga kayang.

Melihat hal ini, ada anggapan bahwa pembarong Reog Ponorogo memanfaatkan bantuan supranatural untuk mampu memainkannya. Namun pengrajin sekaligus pemain reog, Heru, membantah hal tersebut.

"Reog Ponorogo tidak ada yang kesurupan. Yang kesurupan terus menjadi-jadi, itu bukan. Reog Ponorogo pure (murni) tari pertunjukan, semuanya teknik dan dapat dipelajari," ujar Heru.

Tingkat kesulitan untuk memainkan dadak merak ini jelas tinggi. Setiap pembarong rata-rata menghabiskan waktu sekitar 1 tahun untuk mahir.

Salah satu latihan yang mereka lakoni adalah memperkuat gigi sampai leher dengan cara menarik beban. "Latihannya teknik gigit dan kekuatan leher. Itu ada kerekan buat latihan barong. Itu semacam barbel digantung terus digigit, lalu ditarik. Biasanya dari anak TK itu sudah ada," ujarnya.

Selama berlatih, bukan tak mungkin calon pembarong mengalami cidera. Mereka biasanya mengalami sakit leher hingga giginya patah.

Sementara itu, terkait ritual sebelum Reog Ponorogo unjuk gigi, Heru menjelaskan sampai saat ini masih tetap dilakukan sebagai bagian dari tradisi. Hanya saja ritualnya tidak selengkap zaman dahulu.

"Ritual sebenarnya ada tapi bukan seperti yang dulu, tidak sekental dulu. Seperlunya saja. Kalau mau tampil kita kasih minyak wangi, sesaji biasa-biasa saja, kita persiapkan yang akan tampil saja," katanya.

"Sesaji yang dulu komplit ada sego kokoh, kopi pahit, parem, kembang kantil, rokok klobot, minyak fanbo, menyan, dupa. Sekarang ada tapi tidak sebanyak dulu, hanya kembang kantil, rokok klobot, minyak fanbo," ia menuturkan.

(pin/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA