Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Rabu, 09 Nov 2022 12:06 WIB

TRAVEL NEWS

Warok Reog: antara Kanuragan dan Stigma Homoseksual

Putu Intan
detikTravel
Jakarta -

Dalam pementasan Reog Ponorogo terdapat tokoh warok yang digambarkan pemberani dan bijaksana. Namun bayang-bayang stigma homoseksual kerap menghantui tokoh ini.

Bila traveler menonton Reog Ponorogo, pasti tidak asing dengan sosok warok yang bertubuh gempal dengan wajah sangar yang menari di depan barongan dan dadak merak. Umumnya berdandan serba hitam, tak jarang warok ini juga menyita perhatian.

Peneliti Reog Ponorogo Rido Kurnianto memaparkan penampilan warok yang seperti tadi digunakan untuk menggambarkan warok muda. Sementara itu, nantinya juga akan muncul warok sepuh yang membawa tongkat sedang menuntun warok-warok muda belajar.

"Ada warok sepuh pakai aksesoris jenggot putih. Penampilan serba dewasa, serba arif, sedang memberi wejangan ilmu, wejangan kanuragan untuk warok muda," ujarnya.

"Ini penggambaran warok Ponorogo sebagai orang yang sudah memperoleh jati diri. Jadi integritas pribadinya sudah matang, keilmuan sudah matang," sambungnya.

Sosok warok yang digambarkan dalam pertunjukan sebenarnya mewakili karakter warok yang hidup di masa lampau. Tepatnya masa sebelum Islam masuk ke Ponorogo, ada ideologi kanuragan yang diikuti para warok. Salah satu tujuannya adalah mendapatkan kekebalan.

Dalam ideologi tersebut, warok harus melakukan sejumlah pantangan, termasuk menjauhi perempuan. Bagi yang sudah beristri, mereka juga tak diperkenankan untuk berhubungan dengan istri mereka.

Sebagai konsekuensinya, dalam menjalankan ritual kanuragan para warok meminta bantuan anak laki-laki yang disebut gemblak. Para gemblak ini bertugas membantu menyiapkan alat bertapa hingga sesaji. Hanya saja pada praktiknya, tak jarang para gemblak ini menjadi penghibur dan pelipur lara warok.

"Ditemani anak laki yang kemudian terkenal dengan gemblak atau cantrik. Salah satunya melahirkan stigma gemblakan atau homoseksual," kata Rido.

Lebih lanjut Rido mengatakan, ada oknum yang memang melakoni hal-hal yang mengarah pada homoseksualitas. Namun tidak benar bahwa semua warok dan gemblak adalah homoseksual.

"Benar ada oknum tapi tidak bisa digeneralisir. Karena itu, saya sering menyebutnya ada tradisi warok, ada tradisi warokan. Itu beda," ujarnya.

Tradisi warok yang benar akan melampaui tahapan prihatin yang berat. Sementara warokan tidak melakukan hal tersebut.

"Dalam tradisi warokan tidak memiliki tahapan prihatin tapi (mereka) punya harta. Mereka hanya bisa membeli laki-laki yang dinamakan gemblakan. Ada stigma homoseksual di aspek ini tapi warok itu tidak seperti itu," katanya.

Malahan, ketika gemblak diangkat oleh warok, terjadi kaderisasi warok untuk para gemblak. Artinya, gemblak-gemblak ini diberi ilmu yang akan menjadi bekal mereka di masa depan.

"Harus belajar, harus sekolah sehingga para gemblak banyak yang jadi PNS, pejabat, pegawai swasta, ada di sektor-sektor penting pemerintah, ada yang menjadi guru dan seterusnya. Ini yang barangkali tidak diketahui khalayak," ia memaparkan.

Sementara itu, saat ini warok yang melakukan tahapan ilmu kanuragan sudah tidak ada. Rido menjelaskan, penyebutan warok kini lebih luas untuk siapapun yang berjasa untuk Ponorogo.

"Dalam proses perjalanannya, ideologi kanuragan ini semakin luntur dan tidak ada lagi. Warok sekarang adalah definisinya tokoh peradaban, orang yang membawa Ponorogo, berbuat kebaikan dan bermanfaat bagi masyarakat Ponorogo," ucapnya.

"Di dalam tari, tokoh ini kemudian diaktualisasikan dalam bentuk tari warok," imbuhnya.

Pernyataan serupa juga diungkapkan mantan gemblak yang juga pegiat Reog Ponorogo, Sudirman. Menurutnya saat ini warok hanyalah simbol.

"Warok tidak ada, tinggal simbol. Warok bukan untuk dipromosikan, bukan untuk gaya-gayaan. Itu sebutan murni dari masyarakat, sesuatu yang sakral, yang dihormati, dan terhormat," katanya.

Sesepuh Reog Ponorogo yang juga kerap dipanggil warok, Mbah Tobron, bahkan enggan menyebut dirinya sendiri warok. Baginya, siapapun yang visioner dapat disebut warok. "Warok ya orang biasa. Dalam kelompok komunitas reog, orang yang mempunyai pikiran maju dinamakan warok. Dalam komunitas Islam, orang maju dinamakan kyai. Jadi semua itu sama saja asalkan ikhlas," katanya.

(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA