Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Selasa, 06 Des 2022 14:07 WIB

TRAVEL NEWS

Seperti Bang Toyib, Katak Pelangi 'Pulang' Setelah Hilang Lebih 1 Abad

Syanti Mustika
detikTravel
Katak Pelangi
Katak Pelangi (dok Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem)
Jakarta -

Kabar gembira datang dari dunia sains nih. Katak Pelangi yang telah hilang lebih selama satu abad, kembali ditemukan oleh para peneliti.

Dalam rilisnya, Selasa (6/12/2022) dari kegiatan Scientific Exploration and Expedition Cagar Alam (CA) Gunung Nyiut 2022, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama botanist muda menemukan kembali Sambas stream Toad yang hilang di habitat aslinya di Indonesia.

Informasi nih untuk traveler, Katak Pelangi (Ansonia latidisca) atau Sambas stream Toad pertama kali ditemukan pada tahun 1893 oleh seorang ahli botani asal Jerman, Johann Gottfried Hallier, di bagian hulu Sungai Sambas, di puncak Gunung Damus. Berada di sekitar Gunung Nyiut yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat.

Nah, semenjak itulah, katak kharismatik yang cantik dan berukuran mini ini tidak pernah ditemukan kembali di bagian wilayah Indonesia. Walaupun, beberapa temuan terjadi di wilayah pegunungan Penrissen, Sarawak Malaysia, yang terakhir adalah tahun 2011 oleh sekelompok peneliti herpetologi.

Katak PelangiKatak Pelangi Foto: dok Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem)

Akhirnya, 129 tahun berselang sejak pertama kali, Katak Pelangi itu teramati di wilayah Indonesia, tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-77 pada 17 Agustus 2022 yang lalu. Sang Botanist Indonesia tersebut adalah Randi Agusti yang juga tergabung dalam kegiatan Ekspedisi dan Explorasi Gunung Nyiut 2022, yang digagas oleh BKSDA Kalbar.

Beberapa sumber menyebutkan, sejak pertama ditemukan dan kemudian terakhir kali dilihat dan dinyatakan hilang, Sambas stream Toad, ciri-ciri fisiknya hanya diketahui dari satu gambar ilustrasi atau sketsa berwarna hitam putih berdasarkan informasi dari penjelajah.

Sambas stream Toad juga mempunyai ciri fisik yaitu berkaki kurus dan panjang dengan tubuh bertotol-totol. Tubuhnya berukuran kecil. Panjangnya antara 30 - 50 mm.

Kulit belakang berwarna hijau terang, ungu dan merah. Bintik-bintik berwarna pada kulit belakang tidak rata tetapi seperti batu kerikil atau mirip kutil. Dikutip dari National Geographic, seorang ahli Amfibi dari Conservation International, Robin Moore mengatakan, kulit seperti itu biasanya menunjukkan tanda-tanda adanya kelenjar racun.

Nama pelangi yang kemudian disematkan pada Sambas stream Toad, karena pada kulitnya mempunyai pola warna hijau terang, ungu dan merah. Dari ciri tersebutlah, kalau katak yang ditemukan dan lihat di Gunung Nyiut, Kabupaten Landak, adalah Sambas stream Toad atau Katak Pelangi.

Saat ditemukan, sepertinya ia sedang berkamuflase mengikuti warna helai daun tempatnya bertengger. Kamuflase sendiri merupakan cara satwa untuk mengelabui musuhnya. Berdasarkan informasi, Sambas stream Toad atau Katak Pelangi ini memang aktif di malam hari di sekitar sungai yang berbatu-batu atau stream.

Setelah penemuan, Tim ekspedisi botanist masih belum menyadari, kalau katak tersebut merupakan Sambas stream Toad. Bahkan, hingga tiba kembali di Kantor BKSDA Kalbar di Kota Pontianak, usai ekspedisi dan eksplorasi. Sampai akhirnya, baru tersadarkan tiga hari kemudian, setelah tim kembali di Kota Bogor, Jawa Barat.

Katak Pelangikegiatan Scientific Exploration and Expedition Cagar Alam (CA) Gunung Nyiut 2022, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) bersama peneliti muda botanist menemukan kembali Sambas stream Toad yang hilang di habitat aslinya di Indonesia. Foto: dok Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem)

Dengan penemuan kembali Sambas stream Toad, Kepala Balai KSDA Kalbar yang menjabat saat itu, Sadtata Noor Adirahmanta, yang juga terjun langsung dalam penjelajahan mengatakan, kegiatan Jelajah CA Gunung Nyiut oleh BKSDA Kalbar dan para pihak terkait, telah mendapatkan capaian yang luar biasa.

"Beberapa spesies tumbuhan baru sudah ditemukan dan dikonfirmasi memang merupakan spesies baru. Bahkan ada beberapa di antaranya merupakan New Record atau belum pernah ditemukan di Indonesia. Dan, tentunya salah satu yang paling spektakuler adalah adanya temuan salah satu jenis satwa Amfibi, dimana catatan informasi gambaran spesimen diketahui dikumpulkan penejalah pada 1920 an, setelah lebih 100 tahun ditemukan kembali oleh tim ekspedisi kita," katanya.

Terkait dengan penemuan Sambas stream toad, RM Wiwied Widodo akan merancang survey habitat dan pendugaan populasi agar dapat memberikan deskripsi sebaran jenis ini di CA Gunung Nyiut. Namun dia juga mengingatkan bahwa informasi terkait koordinat distribusi Sambas stream toad perlu dirahasiakan, mengingat spesies ini merupakan incaran kolektor fauna bernilai tinggi.

"Paling utama adalah hasil temuan yang diperoleh segera dilakukan kajian dan dipublikasi pada jurnal ilmiah, agar upaya patenisasi dalam rangka pengamanan bioprospecting dapat dilakukan sejak dini," ungkapnya.



Simak Video "Masjid Sultan Syarif Abdurrahman, Saksi Bisu Didirikannya Kota Pontianak"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA