Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 26 Jan 2023 10:15 WIB

TRAVEL NEWS

Contrails Adalah Masalah Penerbangan, Peneliti Mulai Cari Solusinya

Contrail pesawat
Contrails (Foto: Michael Marston ePixel Images/CNN)
Jakarta -

Di hari cerah dan cuaca yang pas, langit yang sibuk dengan penerbangan komersial dapat dipenuhi dengan contrails. Itu adalah awan es tipis yang terbentuk saat pesawat bermesin jet melintas.

Fenomena itu mungkin terlihat tidak berbahaya. Tapi sebenarnya contrails sangat buruk bagi lingkungan. Contrails dalam bahasa Inggris merupakan singkatan dari condensation trails.

Melansir CNN, Kamis (26/1/2023), sebuah studi yang mengamati kontribusi penerbangan terhadap perubahan iklim antara tahun 2000 dan 2018 menyimpulkan bahwa contrails menciptakan 57% dampak pemanasan di sektor ini. Jumlah itu jauh lebih banyak daripada emisi CO2 dari pembakaran BBM.

Karena, contrails melakukannya dengan menjebak panas yang seharusnya dilepaskan ke luar angkasa. Peneliti mengatakan bahwa pencegahannya dengan menargetkan penerbangan tertentu yang memiliki peluang tinggi menghasilkan contrails.

Contrails adalah proses kondensasi, terbentuk ketika uap air mengembun menjadi kristal es yang dipancarkan oleh mesin jet. Proses terbentuknya contrails membutuhkan kondisi atmosfer yang dingin dan lembab, dan keberadaannya tidak bertahan lama.

Adam Durant, seorang ahli vulkanologi dan pengusaha yang berbasis di Inggris, ingin untuk melakukan hal itu. Secara teori, pihaknya dapat memecahkan masalah penerbangan ini dalam satu atau dua tahun.

Contrail pesawatContrails pesawat (Foto: Michael Marston ePixel Images/CNN)

Durant telah lama mempelajari bagaimana kontaminan atmosfer memengaruhi kesehatan mesin pesawat. Setelah letusan gunung berapi Islandia tahun 2010, itu membuat penerbangan terhenti, dan dia memulai proyek dengan Airbus juga easyJet untuk meneliti abu vulkanik.

Pada tahun 2013, ia mendirikan perusahaannya sendiri, Satavia, awalnya berfokus pada menjaga mesin dari polutan yang merusak seperti debu, es, dan abu vulkanik. Kemudian, Covid mengubah prioritas seluruh industri menuju keberlanjutan.

Satavia ingin mengatasi efek buruk dari contrails. Mereka ingin mengembangkan model prediksi cuaca yang dapat meramalkan kondisi yang mengarah pada pembentukannya.

Dari dampak iklim contrails, 80 atau 90%-nya hanya berasal dari mungkin lima hingga 10% dari semua penerbangan. Hanya dengan mengalihkan sebagian kecil penerbangan sebenarnya dapat menyelamatkan sebagian besar dampak iklim contrails.

Pendekatan yang diambil Satavia adalah menargetkan lima hingga 10% penerbangan tersebut pada hari tertentu dan mengubah rencana penerbangan mereka bahkan sebelum pesawat lepas landas.

Itu berarti mengubah ketinggian atau rute mereka untuk menghindari terbang melalui bagian atmosfer yang cenderung membentuk contrails yang terus-menerus. Tantangannya adalah mengatasi jeda waktu penerbangan dan konsumsi bahan bakar.



Simak Video "Warga Evakuasi Pesawat SAM Air yang Tergelincir di Beoga Papua"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA