Elang Jawa yang disebut sebagai inspirasi sosok burung garuda ternyata masih hidup dengan lestari di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Di sebuah hutan belantara, di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), hiduplah kawanan satwa liar yang gagah, Elang Jawa.
Elang Jawa, merupakan spesies burung endemik Pulau Jawa yang karismatik dengan tubuh gagah dan jambul di atas kepalanya yang khas. Melansir informasi dari situs Burung Indonesia, Rabu (7/1/2026), Elang Jawa menghuni hutan-hutan di Pulau Jawa di ketinggian mencapai 3.000 mdpl.
Menariknya, Elang Jawa disebut-sebut sebagai sosok Burung Garuda, sang gagah berani yang merupakan lambang negara Indonesia. Pernyataan ini dibenarkan oleh pihak TNBTS yang menyatakan bahwa Elang Jawa dianggap sebagai inspirasi dari simbol nasional Indonesia.
"Elang Jawa dianggap sebagai simbol nasional yang menjadi inspirasi maskot Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia kita tercinta," tulis TNBTS dalam Instagram resminya.
Penasaran fakta-fakta dari Elang Jawa? Simak informasi berikut ini:
Sejarah Elang Jawa
Elang Jawa merupakan burung endemik Pulau Jawa yang kerap disebut sebagai burung nasional Indonesia. Melansir informasi dari situs Taman Safari Bogor, Rabu (7/1), satwa ini berasal dari keluarga Accipitridae dan termasuk dalam genus Nisaetus.
Keberadaannya hanya dapat ditemukan di wilayah Jawa, mulai dari ujung barat di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo.
Sejarah penemuan Elang Jawa bermula pada akhir abad ke-19. Pada tahun 1898, seorang peneliti bernama E.P. Rillwits mengirimkan spesimen Elang Jawa yang berasal dari Gunung Gede, Jawa Barat, ke Amerika Serikat.
Saat itu, pihak Museum New York mengklasifikasikan burung tersebut sebagai elang brontok karena kemiripan fisiknya dengan jenis elang lain.
Namun, seorang ahli burung keturunan Belanda-Jerman, Max Bartels, melakukan penelitian lebih mendalam terhadap spesimen Elang Jawa. Dari hasil pengamatannya, Bartels menyimpulkan bahwa burung ini memiliki ciri khas yang berbeda dan layak ditetapkan sebagai spesies tersendiri.
Berdasarkan temuan tersebut, pada tahun 1907 Elang Jawa resmi diakui sebagai spesies baru dan diberi nama Nisaetus bartelsi.
Nama tersebut diambil dari nama Max Bartels sebagai bentuk penghargaan atas perannya dalam mengidentifikasi dan memastikan status Elang Jawa sebagai spesies yang berbeda.
Sejak saat itu, Elang Jawa dikenal sebagai salah satu satwa langka dan simbol kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.
Ciri Fisik Elang Jawa
Elang Jawa dikenal sebagai burung pemangsa berukuran besar dengan postur tubuh yang gagah. Panjang tubuhnya dapat mencapai sekitar 60-70 cm, dengan bobot berkisar antara 2-2,5 kg.
Salah satu ciri paling mencolok dari burung ini adalah bentang sayapnya yang lebar, bahkan bisa melebihi satu meter, membuatnya tampak dominan saat terbang di langit hutan Jawa.
Dari segi penampilan, Elang Jawa memiliki jambul di bagian kepala yang menjadi ciri khasnya. Mahkota kepala dan garis kumis atau sungut berwarna hitam, kontras dengan sisi kepala serta tengkuk yang didominasi warna merah kecokelatan.
Sementara itu, bagian punggung dan sayapnya berwarna cokelat gelap, memberikan kesan kuat dan tegas. Bagian ekor Elang Jawa berwarna cokelat dengan garis-garis hitam melintang.
Pada bagian kerongkongan, warna putih terlihat jelas dengan satu garis hitam di bagian tengah, menambah keunikan pola tubuh burung ini. Selain penampilan fisik, Elang Jawa juga dikenal memiliki suara yang keras dan bernada tinggi, kerap terdengar menggema di kawasan hutan pegunungan.
Menariknya, Elang Jawa memiliki fenomena reversed sexual dimorphism, yakni kondisi di mana ukuran tubuh betina lebih besar dibandingkan jantan. Fenomena ini umum ditemukan pada burung pemangsa dan menjadi salah satu karakteristik biologis penting dari spesies ini.
Simak Video "Video POV: Lihat Progres Penataan Jalur Lingkar Kaldera Bromo 2026"
(wsw/wsw)