Dua satwa langka yang dilindungi, Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dilepasliarkan di kawasan Megamendung, Bogor.
Elang Jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa yang menjadi salah satu spesies prioritas konservasi Indonesia, sekaligus indikator penting kesehatan ekosistem hutan di pegunungan Jawa.
Dua individu Elang Jawa yang dilepasliarkan tersebut, diketahui bernama Agni seekor betina dan seekor jantan bernama Beta. Agni berasal dari LK Khusus Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) dan telah menjalani proses rehabilitasi, habituasi, serta evaluasi teknis selama kurang lebih dua tahun enam bulan sebelum dinyatakan layak kembali ke alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Beta merupakan individu Elang Jawa jantan yang berasal dari Yayasan Konservasi Cikananga (YCKT) dan telah menyelesaikan proses rehabilitasi hingga memenuhi persyaratan untuk kembali ke alam liar.
Setelah melalui proses rehabilitasi yang panjang, kedua individu tersebut kini memperoleh kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan liar di Lanskap Megamendung yang telah dinilai layak sebagai habitat berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.
Untuk mendukung pemantauan pasca pelepasliaran, kedua Elang Jawa itu dilengkapi GPS Tracker yang memungkinkan petugas konservasi memantau pergerakan, pemanfaatan habitat, dan keberhasilan adaptasinya di alam.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat konservasi berbasis alam yang mengintegrasikan pemulihan ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayaP, pendidikan lingkungan, penelitian, serta pemberdayaan masyarakat.
Selain melakukan pelepasliaran Elang Jawa, Menteri Kehutanan yang diwakili Dirjen KSDAE juga meresmikan Lembah Aviary Paseban yang dikembangkan sebagai fasilitas konservasi ex-situ non-komersial untuk mendukung konservasi burung Indonesia melalui pendidikan lingkungan, penelitian, pengembangbiakan yang bertanggung jawab, serta pelepasliaran kembali ke habitat alaminya.
Rangkaian kegiatan turut ditandai dengan peresmian Penangkaran Rusa Timor sebagai bagian dari pengembangan pusat konservasi satwa dan pendidikan lingkungan di kawasan tersebut.
Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Prof Dr Setyawan Pudyatmoko, menyampaikan arahan Menteri Kehutanan dan apresiasi kepada Yayasan Paseban, BBKSDA Jawa Barat, Perum Perhutani, Lembaga Konservasi, pemerintah daerah, akademisi, masyarakat, dan berbagai pihak yang telah menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga kelestarian alam di Lanskap Megamendung.
"Upaya konservasi memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Apa yang dilakukan di Megamendung menunjukkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati, pemulihan ekosistem, dan pembangunan yang berkelanjutan dapat berjalan secara selaras," ujar Satyawan.
Lanskap Megamendung diketahui memiliki posisi yang sangat strategis dalam konteks konservasi di Pulau Jawa. Kawasan ini merupakan bagian penting dari bentang alam yang terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas, cagar biosfer pertama di Indonesia yang diakui UNESCO sejak tahun 1977.
Pembina Yayasan Paseban, Andy Utama, menyampaikan bahwa upaya yang dilakukan di Megamendung merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan.
"Kami memiliki cita-cita sederhana namun besar, yaitu turut berkontribusi mengembalikan Megamendung sedekat mungkin dengan kondisi ekologisnya sebagaimana pernah dikenal sekitar seratus tahun yang lalu. Mungkin kita tidak dapat mengembalikan masa lalu sepenuhnya, tetapi kita dapat memulihkan fungsi-fungsi ekologisnya, memperkuat habitat satwa liar, menjaga sumber air, dan mewariskan bentang alam yang lebih baik kepada generasi berikutnya," ujar Andy Utama.
Sementara itu, Penasihat Yayasan Paseban, Wiratno, menekankan pentingnya Megamendung sebagai bagian dari bentang alam yang lebih luas.
"Megamendung memiliki arti yang jauh melampaui batas administratifnya. Kawasan ini merupakan bagian penting dari bentang alam yang terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas dan berperan dalam menjaga fungsi ekologis yang manfaatnya dirasakan hingga wilayah hilir. Di tengah tekanan pembangunan yang terus meningkat, keberadaan kawasan seperti ini menjadi semakin relevan untuk dijaga," ujarnya.
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Visa Ditolak, Iran Tuduh AS Diskriminasi Delegasi Timnas Jelang Piala Dunia
Heboh Penampakan Bromo Diselimuti Salju untuk Pertama Kali di 2026
Hotel-hotel Mewah Dubai Meratap, Jual Kemewahan dengan Diskon 50%